Program TV yang Berkualitas

Kick Andy Program TV Paling Berkualitas

Kamis, 4 Desember 2008 | 03:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS – Acara Kick Andy di Metro TV dinyatakan sebagai program televisi paling berkualitas, hasil riset rating publik II (Oktober 2008) yang dilakukan Yayasan SET (Sain, Estetika, dan Teknologi), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yayasan Tifa, dan Jaringan Masyarakat Pemerhati Televisi. Penelitian ini menunjukkan ada perbedaan antara program yang dinilai berkualitas dengan program ber-rating/share tinggi yang dikeluarkan AGB-Nielsen Media Research.

Riset periode kedua ini melibatkan 220 kalangan terdidik di 11 kota sebagai responden/panelis. ”Dengan metode Peer Review Assessment, riset ini menjaring penilaian mereka secara umum terhadap kualitas program-program televisi, dan secara khusus terhadap program-program televisi pada periode tertentu yang ber-rating atau share tinggi,” kata Koordinator Pelaksana Yayasan SET Agus Sudibyo, Rabu (3/12), di Jakarta.

Dikatakan, riset bertujuan untuk ”memperkaya” penelitian mengenai televisi di Indonesia, terutama pemirsa televisi yang selama ini didominasi oleh jumlah penonton acara televisi (rating).

Hasil penelitian Oktober 2008, Kick Andy (Metro TV) sebagai program paling berkualitas berhasil meraih 35,4 persen. Pada penelitian Maret 2008, Kick Andy sebagai program paling berkualitas meraih 47,1 persen.

Jika pada Maret 2008 Liputan 6 Petang (SCTV) nomor dua berkualitas dengan 11,0 persen, maka pada Oktober 2008 Liputan 6 Petang kualitasnya berada di peringkat IV dengan 3,3 persen. Setelah Kick Andy, responden memilih Si Bolang (Trans 7) sebagai program berkualitas dengan 3,8 persen. Disusul Apa Kabar Indonesia Malam (TvOne), Liputan 6 Petang (SCTV), Metro Hari Ini (Metro TV), dan Para Pencari Tuhan (SCTV). (NAL)


reflection:

Selayaknya, program-progam tayangan di televisi bisa terinspirasi oleh Kick Andy Program, yang mengedepankan edukasi, humanis secara manusiawi dan tidak mengada-ada. Bagi stasiun tv memang tidak mudah. Dalam sebuah obrolan kecil dengan seorang kawan penggiat sinetron di sebuah PH (production house) di Jak-Timur, saya akhirnya bisa sedikit memahami betapa kuatnya arus pasar, trend pasar. Bila pasar sedang tergila-gila pada tayangan2 berbau mistik, maka lahirlah program2 yang mengekspos mistik dalam beraneka bentuk, dst.

Kebutuhan pasar memang menentukan nasib para penyusun dan pembuat program. Dengan kata lain, wilayah televisi sudah lebih dari sekadar pemberi informasi kepada pemirsa. Tetapi, jauh lebih dahsyat dan menggiurkan dari itu semua adalah kebutuhan BISNIS. Ibaratnya, kalau sebuah tayangan diluncurkan (dalam format sebagus apapun) tetapi tidak dikerubungi iklan, ya pasti pihak tv masih “mikir-mikir”, kembali berhitung, dan hasilnya…kebutuhan pasar lah yang harus dipenuhi.

So, apapun itu, masyarakat sendirilah yang akhirnya menjadi benteng terakhir, dan memfungsikan diri sebagai filtrasi yang selektif dan mendidik.

Semoga.

Tinggalkan komentar