BERTERIAKLAH
PADA ANAK (ANAK) KITA (DENGAN LEMBUT) !!!
Tetangga samping rumah (red: kontrakan) selalu ribut tiap hari. Bukan karena cekcok suami istri, atau perang antartetangga rebutan patok tanah. Bukan!!
Tetapi, keributan itu muncul dari teriakan dan hentakan sang ibu yang berbicara (dengan suara) keras pada anak kecilnya (seusia 4 tahun). Hanya suara ibu yang terdengar amat keras sedangkan si anak hanya menangis, itupun terdengar amat samar.
DIAM…!!
BISA DIAM GAK..!!
(pada saat saya menuliskan ini, keributan itu masih berlangsung).
Kata-kata “gertakan” itulah yang kerap dilontarkan sang ibu untuk menenangkan tangis anaknya. Saya sangat hapal rutinitas ibu, tetangga saya ini.
Selain itu, cara sang ibu mendendangkan lagu untuk si anak pun terdengar tidak lazim. Lagu-lagu yang kerap dinyanyikan (dikaraokekan) bukanlah lagi NINA BOBO, SATU SATU, atau lagu anak2 lainnya. Sang ibu justru mendendangkan lagu2 pop hits PeterPan, d’Massiv, Ary Lasso. Jadi bisa ditebak, siapa yang terhibur oleh nyanyian sang ibu. Ya para tetangga. Kalau anaknya mungkin hanya kagum pada ibunya yang nekad bernyanyi dengan suara fals dan peachcontrol yang tidak teratur.
Kembali pada teriakan sang ibu. Selama kurang lebih dua puluh menit, saya sudah mendengar langsung teriakan DIAM dari sang ibu lebih dari 10 kali. Teriakan DIAM itu benar-benar full power!! (Kasihan bener tuh anak ya….)
Anak tumbuh bersama lingkungannya
Kata sang pujangga Libanon, Khalil Gibran, “anak adalah anak panah yang setiap saat akan terlepas dari busurnya”. Simak permenungan Gibran dalam puisinya: “ANAKMU bukan anakmu!”
“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang,
yang tak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
Yang lebih dahsyat adalah Poem by Dorothy Law Nolte: “Children Learn What They Live”. yang terkenal itu.
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Rasa-rasanya, berteriak pada anak bukan saja tak baik bagi jiwa dan kepribadian anak yang sedang bertumbuh. Di sisi lain, image yang terbentuk adalah orang tua yang galak dan menakutkan. Parahnya lagi, jika kelak dewasa, teriakan-teriakan yang diterima pada masa kecil membuatnya kerdil dan takut. Atau bisa juga sebaliknya, ia tumbuh dalam pribadi balas dendam; sehingga membuncah dalam bentuk pribadi yang keras, mudah marah, sensitif, dan kaku. Who knows?
So, berbicaralah dengan lembut pada anak-anak kita!
Niscaya, ia akan bertumbuh dalam kepribadian yang hangat dan bersahabat.
Nov. 6th 2008

walah…fotone sapa itu?
keponakanku jeng…
wah wah makin mantap saja blog si abang ini.
maju terus bang.. aye dukung terus
ciptakan ide-ide segar yang menggoncang dunia
ciayoooooooo
yups..
aq dah baca2 blogmu…
ziiiiiiiiiiiip..
memberi inspirasi,
membawa gairah menulis,
…..
merangsang ciptakan resolusi baru
Ya…emang gitu semestinya.
CATATAN: Sampai hari ini, ibu depan rumahku masih suka teriak-teriak saat menghardik anak kecilnya (2/3 tahunan). Menuruf SUPER NANNY (metroTV) yang pernah kuliat, Jo Jo bilang, “Banyak sekali orang tua harus berkata-kata keras, kasar, kejam, dan mungkin jorok, bukan saja karena mereka (pertama-tama sebenarnya) bermaksud untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi sebenarnya karena para orang tua itu tidak tahu caranya bagaimana mendidik anak secara BAIK dan BENAR.”
Pelajaran menjadi orang tua memang tidak didapat dari bangku sekolah, melainkan dari hidup dan pengalaman.