cerpen karya Ioannes B. Dieuta
Ada apa dengan Ayah? Seta bertanya setengah berteriak. Tapi sang Ayah terus saja “bekerja”. Tangannya yang mulai renta memukul-mukul gembok pagar rumah dengan palu. Pada pukulan kelima, gembok itu hancur berantakan. Seta mencoba menahannya lagi, “Tunggu Ayah. Tunggu! Sebaiknya Ayah tenang dulu. Ada apa ini?” kata Seta sambil mencekal lengan ayahnya. Tapi, sang Ayah tak juga bergeming. Ia malah mendorong Seta ke belakang. Untunglah, Seta cepat menguasai diri, sehingga tidak terjerembab.
“Minggir kamu”, hardik Ayah sambil terus memukul-mukul engsel pagar besi yang kuat terpasang. Sesaat kemudian, satu bagian pagar terpelanting digodam palu. Lalu Ayah membuangnya ke halaman belakang. Tidak berapa lama Ayah kembali, masih dengan amarah.
Palu Ayah kembali berdenting saat beradu dengan besi-besi pagar yang kokoh. Seolah banteng ketaton, Ayah semakin keras memukul. Hingga, pagar tumbang dan porak poranda. Ayah segera mengusungnya ke halaman belakang, lalu melemparkan pagar itu ke atas bagian pagar sebelumnya. Krompyaang…. suara besi beradu terdengar memekakkan telinga.
Setelahnya, Ayah masih saja tak bisa menguasai diri. Semua tanaman tetehan depan rumah dibabat habis. Seta masih tak mengerti kenapa ayahnya melakukan semua itu. Seta hanya menahan diri, sambil sesekali air matanya yang bening menetes di kedua pipinya. Seta tak mau berpikir macam-macam. Ayah tak mungkin gila. Ayah tak mungkin sebrutal ini tanpa sebab.
Seta masih melihat ayahnya, dengan wajah memerah, mencabuti semua tanaman di depan rumah. Tak terkecuali tanaman palem yang sedang bertumbuh indah. Hampir saja Seta memekik. Tapi, lagi-lagi Seta harus menahan diri, takut Ayahnya malah mengamuk padanya. Seta, dan Ayah pasti tahu. Palem itu pohon kesayangan ibu. Tak mungkin Ayah senekad ini, batin Seta.
Bahkan, Ayah juga yang selama ini merawat pohon palem itu dengan penuh kasih. Menyiangi rumput di bawahnya, membersihkan daun-daun kering yang mengonggok di sela-sela daunnya. Ayah pernah bilang, “Pohon palem itu satu-satunya ingatan yang tak lekang oleh waktu. Kamu harus menjaganya, Seta!” demikian Ayah berpesan kepadaku. Tapi, kenapa sekarang Ayah yang membunuhnya, mencerabut sampai akar-akarnya. Ada apa dengan Ayah?
Dalam sekejap, halaman depan rumah menjadi sedemikian lapang. Tanpa tanaman palem, tanpa tetehan, tanpa pagar besi yang menjulang, benteng kesendirian Ayah selama ini.
Ayah Seta, seorang pensiunan pejabat pemerintahan yang sudah lama berlibur di rumah. Ia tak melakukan apa-apa, kecuali merawat pohon palem itu. Setiap kali Seta pergi, Ayah selalu berpesan, “Jangan lupa tutup pagar itu lagi rapat-rapat!”
Seta hampir tidak pernah melanggar perintah ayah. Hanya sekali, saat Seta pergi ke warung. Seta hanya menutup pagar tanpa mengunci gembok yang berkait dengan rantai. Sepulang dari warung, ayah marah-marah. Katanya, Seta tidak lagi patuh pada Ayah.
Sempat Seta kaget bukan kepalang, saat Ayah mengatai Seta, “Apa kamu ingin membunuh ayahmu. Kalau ada maling, terus ayah dirampok, dibunuh, apa kamu masih bisa melihat ayah sekarang!” Teriak ayah. Ya, ampun. Paling beberapa menit saja kok, Yah, batin Seta. Sebab, Seta dilarang membantah. Sekali membantah, Ayah akan memberikan tamparan kecil ke pipinya, tanda kalau ayah tidak suka.
Tapi, sekarang semua berbalik. Justru ayah yang membongkar semua penutup rumah. Bahkan dengan amarah. Ada apa dengan ayah?
Pembersihan halaman rumah dari segala penghalang telah selesai. Tiba-tiba Ayah terduduk lemas. Seta segera berlari ke belakang, dan mengambilkan teh hangat untuk ayah. Seta memberikannya dengan ragu. Tapi, entahlah, sesaat Ayah menatap Seta tajam, dengan sisa-sisa amarah yang masih tertahan. Anak satu-satunya yang selama ini mendampingi ayah, bersama ayah, dan mendengar nasihat-nasihat ayah. Ayah segera meraih segelas teh yang disodorkan Seta.
“Seta, kemarilah. Maafkan Ayah, nak,” kata Ayah sambil memegangi tangan Seta yang sedikit gemetaran. “Bagaimana menurutmu? Bukankah suasana rumah kita sekarang lebih terang. Kita bisa melihat jalan dengan luas. Kita bisa melihat lalu lalang orang yang melintas di depan rumah kita, bukan. Sekarang, ayah tak punya beban lagi, Seta.”
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Ayah. Seta belum berani mendekat. Tapi, untuk usia seukuran Seta, yang sedang mempersiapkan TA (tugas akhir), seharusnya Seta segera memahami maksud perkataan ayahnya. “Ambilkan rokok untuk Ayah,” kata ayah lagi memecah kebekuan. “Tapi, Yah. Bukankah ayah …” belum selesai Seta berucap, tangan ayah segera mengibas pertanda Seta harus segera pergi. Jangan membantah.
Ayah sudah lama tidak merokok. Setidaknya, Seta tidak melihat kepulan asap memekatkan seluruh ruangan rumah, sejak ayah pensiun. Tidak tahu kenapa, mungkin saja ayah tidak cukup uang untuk membelanjakan rokok.
Yang pasti, ayah selalu bilang, “penyesalan ayah sudah terlambat. Kamu jangan sampai melakukan hal yang sama seperti ayah,” kata Ayah kepada Seta. Seta tidak mengerti apa maksudnya. Sejak itu, Seta memang tidak pernah merokok di rumah. Setidaknya, untuk menghormati larangan ayah. Tapi di kampus, di rumah teman, di rental pengetikan, Seta masih bebas merokok. Ayah tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu hal ini.
Tapi, kali ini ayah justru meminta Seta untuk mengambilkan rokok, yang ia simpan dua tahun yang lalu. Tentu saja sudah tak enak rasanya. Sekembalinya, ayah segera menyulut sebatang rokok, menarik asapnya dalam-dalam. “Huk huk huk..,” ayah terbatuk-batuk. Tapi, ayah tak berhenti. Kepulan asap makin menggumpal di mulut ayah. Perlahan ayah mulai tenang. Apa mungkin karena candu dalam rokok yang menyebabkan ayah menjadi setenang ini. Ayah bicara tanpa meledak-ledak lagi. Tutur katanya juga mulai tenang.
“Seta,” panggil ayah. “Kamu tahu, mengapa rumah kita seperti menjadi rumah kutukan? Seta terperanjat dengan kata-kata ayah. Seta menggeleng. Ayah mulai tersenyum. Angin sepoi menghembuskan kesegaran, persis setelah semua tanaman dan pagar dibongkar. Sepertinya, angin ini mau mengucapkan terima kasih, karena telah diberi jalan melintas, masuk ke rumah. Ayah berkata lagi, “Coba kamu rasakan angin yang berhembus ini, segar bukan?”
Seta menjawab singkat, “Ya Yah.”
“Nah, itulah yang ayah inginkan sekarang. Membiarkan angin masuk ke dalam rumah, tanpa pagar, tanpa kegelapan.”
“Aku belum mengerti maksud ayah,” kata Seta menimpali.
Ayah tersenyum. “Dua tahun, pagar yang selalu terkunci ini yang menyebabkan angin tidak bisa masuk dengan leluasa. Puluhan tanaman itu juga menjadi sakit, karena tak punya udara segar yang menjaga mereka dari rasa sakit. Pagar rumah menghambat kebebasan mereka, tanaman, angin, juga palem itu,” kata Ayah menjelaskan.
Seta ingin segera menyanggah, “Tapi Yah, dengan rumah seterbuka ini, apa Ayah tidak takut terjadi sesuatu. Maksud Seta, ada pencuri, pengamen keliling, tetangga yang minta sumbangan dan lain-lain.” Ayah tersenyum lagi. “Tidak anakku. Justru pagar ini yang membuat ayah terkungkung dalam kesepian, kesendirian. Seandaipun ada pencuri masuk, apa yang mau ia curi. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi, bukan?”
“Apa ayah tidak takut bila nanti saat istirahat diganggu suara-suara sumbang pengamen keliling?” Tanya Seta lagi.
“Ah, tak mengapa anakku. Mereka juga perlu kita kasihi. Mereka juga butuh penghasilan untuk hidup,” jelas Ayah.
“Tapi, mengapa selama ini ayah menu…” Omongan Seta tercekat oleh kata-kata ayah yang deras meluncur. “Ayah tahu, sekarang kamu bingung dengan sikap ayah. Tidak apa. Sebab Ayah tidak merasa takut lagi. Harjo, jaksa yang menuntut ayah sudah mati, anakku.” Mata ayah berbinar-binar.
Seta, “Jadi …?”
Nagrak, April 2008
Comments