oleh: Ioannes B. Dieuta*
“Arab?!” Mata Alin jelas membelalak. “Mana mungkin, Bu. Alin kan sarjana!” (kata terakhir sengaja ditekan-tekan secara terbata).
“Apa Ibu salah berharap darimu?”
“Bukan, Bu. Bukan itu persoalannya. Ibu tidak salah. Justu Alin yang salah kalau mengabaikan permintaan Ibu.”
“Lalu?”
Alin terdiam. Ia segera meneguk segelas air putih, meski kerongkongannya tak kering. Alin menata nafasnya. “Bu. Sekarang Alin ingin tahu sesuatu dari Ibu.”
“Katakan Alin!”
“Hmm. Memang Ibu ingin banget Alin pergi ke Arab? Apa Ibu benar-benar ingin Alin menjadi TKW? TKW Bu?”
Mendadak gemericik air comberan menelusup ke lubang-lubang kesunyian. Suara televisi di rumah sebelah, juga terdengar. Bahkan nyanyi biduan dari orkes melayu yang berlatih malam itu, mulai mengusik ketenangan, meski kadang hilang ditiup angin. Sejatinya, malam belum berangkat terlalu larut. Tapi, jengkerik dan katak-katak selokan, sudah tak sabar beradu pentas dengan biduan orkes melayu. Jengkerik pada suara sopran, katak pada suara bariton. Tak selaras memang. Tetapi, setidaknya begitulah sebuah malam harus dinikmati.
“Alin. Seandainya kamu tidak mau ke Arab, Ibu tidak sakit hati. Tetapi Alin harus tahu, tetangga-tetangga kita yang pergi ke Arab sekarang sudah bisa membangun rumah bertingkat, dengan tembok tebal, pintu gerbang yang tinggi dan runcing, dan jendela-jendela kaca berwarna hitam, serta atap-atap kubah yang eksotik…” Ibu menelan ludah. Melihat Alin tidak bereaksi, Ibu kembali berucap dengan lihainya.
“Setiap musim lebaran tiba, korden-korden penutup jendela kaca selalu diganti dengan korden baru. Kata mereka, itu asli tenunan orang Arab. Meski Ibu tahu, itu korden mirip korden punya tante Mel di Bandung. Lalu, sepulang dari shalat Id di lapangan samping Balai Desa, tangan mereka berkilauan gelang emas. Jari-jari mereka menjadi kuning perak oleh cincin-cincin berukiran huruf Arab. Hisab yang menutup rambut (baca: aurat) tampak indah merona. Di ujung hisab bagian depan semburat warna merah muda, amat pas dengan perpaduan warna putih mengkilat. Mengkilat. Sungguh memesona, Alinku.”
Alin menatap ke arah tangan-tangan Ibunya yang sedang memeragakan ucapannya. Ibu semakin bersemangat.
“Bukan hanya itu, Alin. Merekalah yang seringkali dipanggil dengan meriah dan gegap gempita oleh petugas surau. Tahu kenapa? Ya, merekalah penyumbang zakat terbesar di kampung ini. Mereka telah benar-benar melaksanakan kebaikan berlipat, Alin. Dan, kamu tahu Alin. Semua itu bisa mereka lakukan, tanpa harus menjadi sarjana.”
“Tapi Alin sudah terlanjur sarjana, Bu!”
Alin menghela nafas, disusul dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Alin tidak mengerti jalan pikiran ibunya.
“Alin. Ibu tidak menyalahkan titelmu. Tapi setahu ibu, setelah kelulusanmu, rumah ini rasanya semakin menyempit saja. Sebentar lagi, bangunan belakang rumah pun telah bersiap jatuh ke lembah. Meski pancang-pancangnya kuat mencengkeram bumi, tapi apalah daya bila musim longsor mengikis pondasi tanahnya. Dengan apa semua itu bisa melegakan hati Ibu, Alin. Hanya satu cara: kamu harus bekerja!”
**
Jauh di lubuk hati, Alin bertanya-tanya, mengapa dulu ibu menyekolahkannya hingga perguruan tinggi. Anehnya, justru ibu yang menyuruh Alin untuk kuliah. Tak bisa dipungkiri, ibu tak pernah mengecap sekolah setinggi Alin sekarang. Dengan alasan itulah, mungkin ibu tak ingin menelantarkan pendidikan anak semata wayangnya. Ayah? Sejak tahun lalu, Ayah telah pensiun dari pegawai negeri. Ayah tidak lagi mengajar anak-anak sekolah dasar di kampungnya. Kini, ayah hanya sibuk mengurusi tanaman hias dan kebun palawija. Berbeda dengan ibu, ayah tidak terlalu antusias menyodorkan rancangan-rancangan masa depan untuk Alin. Maklum, ayah terlalu pendiam untuk urusan keluarga. Tetapi, Alin tahu senyatanya ayah menginginkan Alin menjadi guru, sepertinya. Satu hal yang justru menjadi pantangan bagi Alin.
“Alin tak mau jadi guru, Ayah!” kata Alin suatu ketika. “Menjadi guru, berarti tak punya karir. Alin tidak mau terjebak dalam rutinitas yang merepotkan. Mengoreksi ulangan, merekayasa angka rapor, menunggui anak-anak saat ujian nasional. Belum lagi kalau menghadapi murid-murid yang nakal. Agh, sangat menjengkelkan.”
Mendengar penjelasan anaknya, ayah tidak naik pitam. Ayah malah tersenyum, seolah ingin memberi kekuatan cinta tanpa banyak kata. Hanya satu hal dari Ayah yang selalu diingat oleh Alin. “Jika Ayah menjadi guru, itu semata karena panggilan jiwa. Selebihnya adalah jalur rahmat sang Pencipta. Karena itu, lakukanlah sesuatu seturut hatimu, Alin. Seturut hatimu!”
Sekarang saatnya Alin mengikuti kata-kata Ayahnya. Berhadapan dengan ibu, Alin merasa selalu kalah. Setidak-tidaknya, perdebatan semalam. Ibu tetap pada pendiriannya, meminta Alin pergi ke Arab Saudi. Menurut ibu, menjadi TKW adalah pilihan terbaik untuk memperbaiki nasib. Tak ada pilihan lain, kecuali kembali menegosiasikan kehendak hati Alin dengan kehendak ibunya.
Alin menghadap.
“Ibu. Alin ingin bicara.” Nada suara Alin datar, setengah memohon.
“Bicaralah, nak.” Ibu juga bicara datar.
“Bu. Alin tahu, Ibu menyayangi Alin lebih dari siapapun. Ibu tentu tidak ingin kehilangan Alin, tidak ingin melihat Alin celaka atau sakit tanpa perawatan. Alin ingin sekali menuruti keinginan ibu untuk pergi ke Arab. Setidaknya, sepulang dari Arab nanti rumah kita bisa kembali kokoh berdiri. Ibu akan selalu bisa mengganti korden-korden jendela. Ibu juga bisa duduk di kursi goyang di lantai dua, sambil menikmati sepoi angin dari sungai dan sawah yang menghampar. Pada saatnya nanti, ibu juga tidak perlu malu lagi pergi ke pasar, pergi kondangan, atau melayat tetangga yang meninggal. Sebab, sepulang dari Arab nanti, Alin akan mengalungi ibu dengan kalung emas yang berkilauan. Saat berjalan, kaki-kaki ibu akan riuh oleh gemerincing gelang-gelang emas yang bertabur berlian. Ibu juga akan mengenakan kerudung putih seputih kapas. Jari-jemari ibu akan penuh dengan cincin-cincin bertuah, sehingga ibu menjadi percaya diri saat bersalaman dengan orang-orang kampung, termasuk dengan para pejabat kelurahan. Tapi…”
Kesunyian tak lagi menyengat. Anak-anak di surau juga sudah lama berhenti berkumandang. Hanya degup jantung Alin yang semakin lama jauh lebih keras berdetak. Meski setangkai dua tangkai kata sudah dironce dengan hati-hati. Tapi, Alin tetap tak kuasa menyesak. Tiba-tiba kerongkongannya tercekat. Sebenarnya, Alin tinggal menyelesaikan kalimat kesimpulan dari seluruh presentasi dan pemaparannya yang deskriptif tadi. Tetapi, lagi-lagi Alin harus menghitung langkah. Seandainya ibu marah, itu berarti kiamat bagi Alin. Demikian sebaliknya, apabila ibunya bisa menerima alasan-alasannya, itupun berarti neraka bagi Alin.
“Katakanlah, Nak. Adakah sesuatu yang mengganggu tidurmu? Adakah kesarjanaanmu menjadi penyebab semua masalah ini? Katakan saja, Alin. Ibu mendengarkan.”
Alin menggeser letak duduknya. Lalu menata rambut dengan mengikatnya menjadi satu ikatan di belakang. Sekarang tampak jelas. Alin menyimpan sebuah keresahan. Padahal, maksud kedatangannya pulang setelah wisuda itu semata karena ingin menebus hari-harinya yang hilang bersama ibu. Tetapi begini akhirnya. Tiba-tiba ibu menebas habis semua impian Alin. Serta merta ibu membakar hangus semua tekad dan semangat Alin yang membaja. Dan itu semua berubah dengan tiba-tiba.
Ibu tidak berubah, tetap santun, hangat, dan penuh kerahiman. Yang berbeda hanyalah sudut pandangnya. Ibu tidak menyesal telah menyekolahkan Alin hingga sarjana. Buktinya, ibu menangis haru saat nama Alin disebut sebagai wisudawan berprestasi, persis pada saat penobatan Alin menyandang gelar sarjana sastra bahasa Indonesia.
Ada apa dengan ibu. Kenapa ayah juga tidak bicara, pada saat Alin membutuhkannya. Sudah saatnya, ayah tak membeo keinginan ibu. “Bicaralah dengan hatimu, Ayah!” Batin Alin meneriakkan pertolongan.
Di hadapan ibu, seperti sekarang ini adalah sebuah kesalahan. Tatapan ibu yang lembut, justru membuat Alin tak tega menyakitinya. Harapan-harapan ibu yang dituturkan dengan keikhlasan, adalah tombak tajam yang menyayat kedaulatan Alin sebagai anak. Alin masih berdiam. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah meremas-remas jemarinya, kemudian menghilangkan kotoran yang menempel di sela-sela kuku tangannya. Sedang matanya, sesekali mendongak ke arah ibu. Namun, hanya sedetik. Selebihnya, Alin melabuhkan pandangan matanya ke lantai, sepenuhnya, selama mungkin.
**
Waktu sudah terbuang percuma. Alin belum menemukan kata-kata penutup yang pas. Hingga pada suatu waktu, tangan ibu menyentuh pundaknya. Dengan lembut, tangan Ibu meraih dagu, dan menempatkan wajah Alin menjadi benar-benar sejajar dengan wajahnya. Ibu dan anak saling bertatap.
Nun kecil dan sempit di dalam hatinya, Ibu menyimpan kebanggaan yang tak terhingga melihat anak perempuannya, tumbuh dewasa. Tak terhitung lagi berapa kebahagiaan yang diberikan Alin kepada ibunya. Dan, kini kamu hendak memberikan lagi kebahagiaanmu untuk ibu. Alin. Alin. Maafkan ibu, Nak.
“Ibu. Mengapa ibu menangis? Ada yang salah dari ucapan Alin?”
Ibu menggeleng. Tumpah ruah semua rasa, persis di saat mata ibu menatap anak perempuannya lekat-lekat. Ibu menggelengkan kepala, melelehkan air mata, lalu menyunggingkan senyum. Ibu dan anak, saling bertatap, lalu berhamburanlah keduanya dalam pelukan.
“Kamulah harta ibu yang tak ternilai, anakku!”
Duren Sawit, Oktober 2008
Comments