MERAHNYA TERRA

Cerpen karya Ioannes B. Dieuta

“Bisa minta foto anakmu, gak?” Ini sms keduaku setelah menanyakan kabarnya. Terra menjawab singkat. “Maaf, tak bisa!!” Aku masih memburunya dengan tanda tanya dan sedikit permohonan. “Kenapa? Aku hanya ingin melihat anakmu,” smsku yang ketiga. Buru-buru aku menambahkan dengan kalimat pendamaian, “Aku tidak ingin merampas bahagiamu. Sekadar bisa melihat foto anakmu, aku pasti lega.” Aku masih berusaha meyakinkannya bahwa aku tak bermaksud lain kecuali melihat kebahagiaannya. Lama, hpku tak berdering. Mungkin ia benar-benar marah sekarang. Jarum jam di tanganku bergerak ke menit 12. Hp-ku belum juga berdering. Setengah dari kesadaranku ingin bicara, aku hanya membutuhkan kejelasan, lain tidak. Setelahnya, aku akan melanjutkan hidup tanpa beban. Meski tak akan pernah bisa hilang sepenuhnya. Tapi, aku berjanji pada diriku sendiri, tak akan mengganggunya lagi jika malam ini aku bisa melihat foto anaknya. Terra, please… “Kamu marah?!” Aku memaksamu menjawab. Kesabaranku semakin habis untuk sekadar menunggu jawaban darinya. Hatiku mulai gelisah. Tidak seharusnya dia membiarkanku begini. Dua ekor nyamuk mendengung di samping telingaku. Sepertinya, mereka ingin menggodaku atau mungkin menghiburku. Yang jelas, dengungan dua ekor nyamuk itu justru membuat hatiku makin kesal. Aku semakin gelisah. Berkali-kali aku mengubah posisi kaki tanpa terarah. Sesekali berdiri, duduk lagi, berdiri, duduk lagi. Hp berdering. Tanganku segera meraih hp produksi inggris, lalu dengan tergesa aku membuka sms itu tanpa melihat lagi siapa yang mengirimnya. “Piye, dab (mas)! Dah dapet liputan belum?” Mendadak lemas tubuhku, lalu menggerutu. Aku pikir dari Terra. Huh, Bajul sialan. Belum habis masa kesalku, hpku berdering lagi. Kini aku membukanya dengan hati-hati meski tetap tergesa dan jari gemetar. “Apa urusanmu!” Agh. Mateek aku. Kata-kata balasan yang aku takutkan, akhirnya dia katakan juga. Mendadak tubuhku lemas, semangatku tersungkur ke sebuah perasaan bersalah. Kenapa tidak kau jawab saja dengan mms foto anakmu. Ah Terra. Aku…aku… Kata-katamu memundurkanku kembali ke titik penyesalan yang paling dalam. Dengan apa lagi aku harus memberi alasan. Tapi, benar juga. Apa urusanku meminta foto anaknya. Tokh itu bukan foto anakku. Hatiku berperang. Jari jemariku seolah tak kuasa lagi memencet tuts hp. Jawaban apalagi yang harus kubalas. Dengan apa lagi harus kujawab, sebagai alibi untuk mengobati rasa ingin tahuku mengenai kabar Terra. ** Usia anaknya mungkin sudah setahun, mungkin dua tahun. Tentang Terra, aku mengenalnya sejak sepuluh tahun yang lalu saat aku menemukan Terra tergeletak di pinggir jalan, merintih kesakitan. Aku memapahnya dengan hati-hati, sebab jalanan masih ramai oleh lalu lalang patroli. Diam-diam aku membawanya ke rumah sakit terdekat. Masya Allah, di sana sudah banyak sekali pasien mengantri. Puluhan kain kafan yang membungkus mayat berderet di lorong-lorong. Ini berita bagus, pikirku sesaat. Tapi, lagi-lagi batinku berperang. Menolong Terra atau menulis berita. Belum sedetik aku berpikir, seorang suster perawat datang menjemput, menaikkan Terra ke atas bangsal dorong. ID Card pers, juga seperangkat kamera, segera kusembunyikan di dalam tas. Aku berlari mengikuti suster yang membawa Terra ke kamar gawat darurat. “Maaf, Anda harus menunggu di luar. Kami akan segera menangani teman Anda,” cegah seorang suster lain sambil menyorongkan tangan ke dadaku. Aku patuh. Tapi, justru membuatku gelisah. Beberapa saat aku menunggu. Mengapa aku harus menunggu? Aku bahkan belum mengirimkan berita satu pun ke kantor. Seorang berbaju putih berperawakan gemuk melintas. “Emm, maaf suster eh dokter, saya Wani. Apa saya bisa nitip kartu nama ini, siapa tahu pihak rumah sakit membutuhkan saya berkait dengan pasien yang saya bawa tadi?” kataku pada dokter itu. Dia tersenyum, “Siapa nama pasien Anda?” Aku ragu untuk segera menjawab. “Terra, Dok. Iya, Terra. Namanya Terra. Saya juga baru tahu dari kartu pengenal di dompetnya!” kataku menegaskan. “Jadi, Anda baru tahu namanya barusan? Anda bukan saudaranya? Temannya?” Tiba-tiba dokter memburuku dengan pertanyaan. “Emm, maaf Dok. Saya permisi. Kalau ada apa-apa silakan hubungi saya, nomor hp saya ada di kartu nama itu. Terima kasih, Dok!” Buru-buru aku menyambar tas di bangku tunggu dan segera pergi. ** Sekarang, aku hanya ingin tahu kabarnya. Sejak kudengar pernikahan Terra dua tahun yang lalu, aku tidak lagi pernah menghubunginya. Aku juga tidak tahu kenapa harus tahu kabarnya. Tokh ia sudah menikah dan hidup bahagia bersama suaminya, seorang pengusaha konveksi. Sebaliknya, bila ia memilihku menjadi suaminya, barangkali ia tidak akan sebahagia sekarang. Meski aku tahu, Terra mencintaiku bukan karena balas budi. Dan, aku tahu ia tidak menikahiku bukan karena perbedaan suku. Terra pernah berujar padaku, “Aku tidak pernah membencimu, meski kamu bagian dari kaum yang mencelakaiku. Aku juga tidak pernah minta dilahirkan Cina. Sebab aku tidak bisa memilih ingin menjadi suku apa saat lahir! Aku ya aku, Wani (katanya, sambil menatapku tajam). Orang boleh membenci kaumku, tapi aku tidak pernah menyesali keberadaanku!” Aku terhenyak mendengar kata-katanya. Belum pernah Terra bicara sedemikian tegasnya. Bahkan selama 8 tahun lebih, Terra seperti menjadi makhluk di dasar laut yang telah tenggelam dalam ketidakpercayaan diri. Benar saja. Terra menikah seminggu setelah perayaan Natal, dua tahun yang lalu. Wajahnya bersinar dikilau matahari. Dan, aku hanya bisa membayangkannya dipeluk bahagia, dalam balutan sutera putih sang putri yang diiringi tarian Barongsai “Naga mengejar kupu-kupu”. Aku mengingatnya sekarang, dua tahun sebelum pernikahannya, aku dan Terra mengakhiri semuanya. “Maafkan aku Wani. Aku tak bisa lagi terus-menerus bersembunyi. Lebih dari delapan tahun, kamu perlakukan aku seperti bidadari. Aku mensyukurinya, Wani. Bahkan separuh hidupku sudah menjadi milikmu, sejak kau selamatkan aku dari puing-puing semangatku …” Buru-buru aku menyahut, “Tidak Terra. Yang membangun kehidupanmu dari puing-puing menjadi bangunan yang kokoh adalah dirimu sendiri. What I’ve done is nothing.” Terra menempelkan jari telunjuknya di bibirku, lalu mengatupkannya dengan rapat. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan mamamu yang selalu mempersalahkan profesiku. Aku juga memahami keberadaanku. ** Malam semakin larut. Aku membanting tubuhku dalam pengaduan pada malam yang sepi. Persisnya, aku sendiri tidak tahu, atas alasan apa yang membuatmu mencintai negeri ini. Makan dari gemburnya tanah di sini, tapi hidup seperti di negeri seberang, di tanah yang asing. Terra, bahkan kamu tak tahu nama aslimu. Katamu kepadaku, “Untuk apa? Terra, dengan jujur sekarang aku menyesalinya, bukan karena aku membencimu. BUKAN. Aku juga tidak pernah membencimu, bahkan saat bulan madumu datang. Tidak. Aku membenci negeriku yang merah, semerah amarah yang mudah tersulut. Aku membenci negeriku yang membenci pelangi. Karena itulah dari rahimmu tak pernah lahir anakku. Begitulah, anakmu lahir dari ketakutan zaman. *** Hp-ku berdering. Sepotong gambar polos perlahan mewarnai LCD-ku. Anak Terra begitu tampan. Hidungnya mirip sekali dengan ibunya. Matanya, entah mata milik siapa, sepertinya aku kenal. Hmm. Bibirnya, senyumnya semua seperti ibunya. Entah kenapa tiba-tba Terra mengirimkan foto itu ke hpku. Setelah perjuangan panjangku untuk sekedar minta gambar anaknya, dan bukan meminta anaknya. Berikutnya, sms datang untuk terakhir kalinya, “Anakku bukan anakmu!” Ia lahir dari rahimku tapi bukan dari spermamu (maaf). Kuharap kau mengerti dan jangan ganggu bahagiaku lagi. Aku, Tan Lee dan Hana hidup bahagia.” Aku tak peduli dengan smsnya, mataku terus dan kembali terus menatap dalam mata anak kecil itu. Mata yang pernah aku kenal dan mungkin tiap hari aku lihat. Mungkin mata itu adalah mataku. Aku juga tidak tahu.

Tinggalkan komentar