MELAYAT BAPAK

karya Ioannes B. Dieuta

Sebenarnya, keberangkatanku ke Jogja hari ini tak begitu berguna. Pemakaman bapak (angkatku) dilakukan pukul 13.00 siang ini. Tapi, aku tak cukup punya waktu untuk segera pulang. Naik kereta api butuh 6-8 jam, sedang bis atau travel butuh waktu 10-12 jam. Pilihan terakhir tentu saja pesawat terbang. Tapi, jarak tempuh Bekasi – Cengkareng minimal 2 jam, belum macet. Sementara sekarang sudah pukul 10.00. Perjalanan ke jogja dengan pesawat memang hanya 1 jam. Paling dari bandara Adi Sucipto ke Kalasan, tinggal 25 menit lagi. Sayangnya, aku tak punya cukup uang untuk bayar tiket pesawat.
Dengan terbata, aku katakan pada saudara angkatku, Ehal, supaya merelakan ketidakhadiranku di pemakaman bapak. “Bapak pasti ngerti, aku tak bisa datang buru-buru,” kataku pada Ehal. Tentu saja, aku minta maaf pada bapak, sebab rasanya pahit getir menahan rindu ingin bertemu bapak untuk yang terakhir kali, benar-benar membuatku sesak. Mau menangis, nanti malah merepotkan teman-teman kantor. Laki-laki kok menangis. Maka, aku putuskan untuk pulang malam ini, dengan kereta ekonomi. “Ya, sudah kalau tidak bisa pulang sore ini, gak pa pa. Kami di sini tetap menunggu kedatanganmu esok,” jawab Ehal dengan ketegaran luar biasa. Aku pun menutup telepon dengan lidah tercekat, “Iya. Aku pasti datang. Katakan maaf dan salam hormatku pada Mak.”
Pukul 21.30, kereta Progo belum juga nongol. Pasti terlambat lagi, pikirku menepis kegelisahan. Apa selalu begini kereta kelas ekonomi? Sementara setiap kali kereta eksekutif berhenti, mataku makin memerah. Lihat saja gaya mereka, dengan kedua kaki diangkat, telapak kaki menghadap ke luar, sementara dari mulutnya asap rokok putih segera menyengat hidung para perawan juga ibu-ibu berjilbab. Aku tahu itu rokok putih berikon kuda, batangnya yang putih ringan, dengan bau yang khas (menyengat).
“Teng tong teng teng . . ., diberitahukan kepada para penumpang kereta Progo harap bersabar, karena kereta datang terlambat ..” suara petugas jawatan bertempur dengan deru kereta yang melaju bising, menjadikan suaranya sedikit samar.
Agh, dasar kereta ekonomi. Selalu terlambat dan terlambat lagi, aku menggerutu pada diri sendiri. Aku tak berpikir waktu lagi. Tiga empat kali melirik jam dinding di atas pos jaga petugas kereta, rasanya makin memuakkan. Tapi, apa yang kukejar, tak ada. Bapak sudah tidur pulas di nisannya, sejak sore tadi. Para tetangga dan pelayat pun pasti sudah pulang. Aku makin gelisah.
Stasiun Jatinegara. 22.00. Orang-orang yang berlalu lalang perlahan hanya tersungkur lemas, menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Wajah-wajah mereka makin kucel, mungkin juga seperti wajahku.
Entah jam berapa sekarang, aku malas menandainya lagi. Tapi, seorang kenalan di sebelahku ngoceh terus seolah tak tahu kegelisahanku. Perutku mulai memanggil (seperti sekarang). Masya Allah, sudah pukul 22.45. Agh, kereta sialan, kalau tahu begini mendingan tadi makan dulu. “Sial. Benar-benar sial!” Perutku makin mendesak. Aku beranikan diri memotong obrolan teman sebelahku dan mohon pamit sekadar membeli roti sobek dan sebotol air mineral. Sekembalinya, aku sodorkan ke dia. Meski dengan lagak sok alimnya, ia yang semula menolak roti yang kutawarkan akhirnya menerima juga. Bahkan lebih lahap dari yang aku duga.
Masih dengan konsentrasi yang tak sempurna, akhirnya aku putuskan untuk tetap mendengarkan kenalanku di sebelah itu ngoceh. Membiarkannya cerita dari A sampai Z. Sambil sesekali mengiyakan dengan anggukan, terperanjat dengan setengah berteriak, “agh, masa!?”, lalu, “o, pantes…” dan seterusnya. Mungkin inilah satu-satunya cara membunuh sepi dan rasa jenuh.
Aku hanya mendengarkan sekadar teman menunggu kereta. Selebihnya adalah angin lalu. Untunglah, kereta bisnis yang ia nanti lebih cepat tiba. Ia agak ragu, “Sebenarnya saya tak tega ninggalin mas. Setidaknya saya harus membalas hutang budi saya pada mas, yang sudah memberi saya roti…”. Sebelum ia makin panjang lebar, aku segera memotongnya diplomatis, “agh, gak pa pa kok, Mas. Anggap saja roti itu tidak pernah saya beri, jadi sekarang kita impas. Mas boleh pergi duluan!” kataku setengah menyuruh. Hmm, syukurlah, dengan membungkuk hormat ia pun pergi dan segera berlalu mengikuti laju kereta menembus gelap.
Seperginya, aku kembali menikmati rasa gelisahku, juga rasa kantukku. Mencoba mengingat kenangan bersama bapak. Aku mengenalnya sudah sepuluh tahun yang lalu, ketika aku dan Ehal sekolah asrama di Magelang. Bisa jadi karena aku dan Ehal adalah teman dekat, maka kedua orang tua kami pun jadi akrab. Sejak itulah, aku selalu memanggil Mak dan Bapak, seperti aku memanggil kedua orang tuaku.
Jatinegara telah menyepi. Kereta pun datang, setelah rasa kantuk mulai menyerang. Pukul 23.25 sinar lampu kereta Progo menerang Jatinegara. Aku bersiap-siap, berjejal di antara penumpang dan pedagang asongan. Maklumlah, ini kereta paling akhir. Berdesak-desak menjadi pilihan terbaik untuk bisa pulang.
Rasanya manusia makin berjejal saja. Coba harus berapa kubik O2 saja yang harus dihirup manusia setiap detik. Nyatanya di sini, sekarang ini, aku harus berdiri berdesak, kesulitan mencari oksigen. Meski bertiket, tapi tempat duduk nyaris tak tersisa. Hingga lorong-lorong tiap gerbong pun menjadi lautan manusia. Belum lagi seperempat perjalanan, keringat mengucur deras. Terpaksa aku harus berebut ruang sekadar melepas jaket kulitku. Permusuhan dengan situasi belum juga usai. Teriakan para penjaja makanan dan minuman menyerobot ruang-ruang sempit di sela-sela gerbong kereta. Makin dekat, makin kencang, memerahkan telinga.
Kereta terus melaju. Pause dari satu stasiun ke stasiun berikutnya.. Dan sudah lebih dari dua kali, aku mendesak kerapatan penumpang untuk melepas kelegaan; melepas urina, persis saat kereta berhenti di kegelapan.
Suara-suara yang khas itu memang mengangenkan sebuah petualangan. Bau khas penjual pecel, juga aroma keringat penjaja minuman kopi, menusuk-nusuk. Terkadang pengin muntah, tapi di lain waktu suasana itu mengiang sebagai kerinduan. Entahlah, aku membencinya sekaligus mengangeni aromanya. Seperti sebuah petualangan mendaki gunung. Berangkat begitu semangat, begitu turun gunung dan bertemu derajat celcius di bawah nol, jadi menggerutu gak akan berniat untuk mendaki lagi. Tetapi, keesokan harinya, atau lusanya keinginan mendaki itu merangsek lagi.
“Karcis, mas. karcis…!” Segera aku sodorkan kertas merah karton. Dan sang kondektur segera menyodorkan klip, lalu mengeklipkannya ke karcisku. Langkahnya yang tertatih di antara kerumunan, sesekali (bahkan bisa dibilang sering) menuai hasil. Penumpang-penumpang liar tak bertiket segera merapatkan tangan ke tangan kondektur sambil melepas lima ribuan. Sang kondektur tak marah. Sebab, terkadang uang sabetan jauh lebih tinggi dibanding gaji pokok. Bayangkan saja bila dalam 8 gerbong ada 10 penumpang liar, dikalikan lima belas ribu rupiah per kepala, selama 3 kali pemeriksaan. Sang kondektur bisa mengantongi Rp 1.200.000 dalam semalam. Aha, ini hanya hitung-hitungan dalam benak. Senyatanya, mungkin lebih pahit dari yang terbayang.
Sebelum keberangkatanku, seorang kawan kerja mengolokku. “Untuk apa pergi kalau tidak sempat menghadiri pemakamannya”, begitu katanya bermaksud mencegahku. Tapi maaf, aku harus pergi. Aku pulang untuk Mak, Ehal, dan kedua adiknya.
Mati, karena gagal ginjal. Itulah bapak. Sejak semula, ia tak mau dibawa ke rumah sakit. Katanya, “gak usah, biarkan saja bapak di rumah. Bapak sudah pasrah kok.” Mendengar kata-kata bapak yang tak biasa, tentu saja membuat Mak tercenung. Matanya basah. Demikian juga aku saat mendengarkan cerita Mak, kelak. Sementara Ehal anak kedua yang baru saja ditahbiskan menjadi imam, menungguinya terus sambil membujuk bapak supaya mau berobat. Setidaknya transfusi darah.
Pukul 18.00 bapak masuk rumah sakit Panti Rini, Kalasan. Bapak masih enggan cuci darah, sebab pikir bapak, waktunya tinggal beberapa saat lagi. Toh, bapak sudah mirsani (menyaksikan) anak keduanya ditahbiskan. Barangkali, itulah niat bapak. Nyatanya, sepulang dari perhelatan tahbisan; juga pesta sederhana di rumahnya, bapak tak kuat lagi bertahan. Tubuhnya melemas tiba-tiba. Dan, mulailah bapak bergelut dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Sakitnya kambuh lagi.
Sudah beberapa bulan ini, hidup bapak memang dicangkok oleh transfusi darah. Tapi, bukan bapak namanya bila ia berhenti bekerja hanya karena alasan sakit. Selama masa penyembuhan, bapak masih sempat ke sawah; mencangkul dan menyiangi rumput. Masih juga membelah kayu di belakang rumah. Tapi bapak masih rajin minum air seduhan, semacam jamu terbuat dari kulit-kulit apel yang kering lalu diseduh dalam air hangat. Katanya, ramuan itu sedikit bisa mengikat darah. Hanya saja, beberapa hari ini, bapak nampak amat lelah. Rutinitas ke sawah dan kebun terhenti. Bapak hanya tiduran. Dan Mak menungguinya dengan sabar, teman hidupnya yang setia.
##
Pukul 06.00. Jogja masih pagi. Stasiun lempuyangan merekah oleh sapaan ramah para tukang ojek dan sopir taksi. Lempuyangan belum berubah. Tetap tua dan sopan. Aku membasuh muka dengan sisa air mineral yang aku beli di perjalanan. Tawaran penjaja kolonyet (tisu basah) tidak aku gubris. Aku lebih suka tanpa tisu. Sebab yang aku tahu, tisu-tisu itu salah satu pembeli hutan, penggundul hutan, juga pembakar batang-batang jati dan menggelontor ke pabrik-pabrik ilegal, menjadi selembar tisu yang dijual murah meriah.
Angin dingin memoles kulit. Sedikit menusuk tapi tidak terlalu. Dan, aku membiarkan rasa sejuk membasuh. Aku setengah merindunya, sekaligus membencinya. Entah kenapa.
Segera asap mengepul dari bibirku seperti cerobong pabrik. Betapa nikmat pagi ini. Rasanya seperti di negeri sendiri, di rumah sendiri. Agh ya, ke Jogja memang selalu untuk pulang. Kerabat dan kawan tak pernah menyapaku, kapan datang ke Jogja tapi kapan pulang? Dan selang beberapa hari menjelang keberangkatanku, mereka selalu bilang, kapan berangkat? bukan kapan pulang? Jadi, Jogja memang rumahku. Rumah seorang perantauan.
….
Rasanya perjalanan semalam terasa panjang. Melelahkan. Hm, aku berpikir sejenak. Setelah menyelesaikan hisapan terakhir dari rokok yang ke-3, aku putuskan untuk menyarter taxi. Tak apa, pikirku, sedikit membalas dendam setelah semalam diombang-ambingkan angin kereta. Maka, dengan tersenyum aku hempaskan tubuh lelahku ke kursi empuk taxi. Dari wajahku yang kucel, pak sopir tahu kalau aku dari perjalanan jauh. “Baru pulang, Mas!” sapa pak sopir ramah. “Iya!” jawabku singkat. “Keretanya telat (terlambat) ya Mas? Memang dari Jakarta jam berapa?” kembali pak sopir bertanya, sambil terus mengamati jalan yang mulai menggeliat.
Bukannya tak mau menjawab, tapi rasa lelah tiba-tiba menyengat staminaku. Rasanya ingin melelapkan diri segera di peraduan. Aku membayangkan wajah Ehal? Seperti apakah dia sekarang, setidaknya sehari dua hari ini setelah ia kehilangan bapaknya. Pasti akan kupeluk dia, bila nanti bertemu. Bukan hanya kangen setelah beberapa bulan ini tak bertemu, tapi satu perasaan menyayangi bapak, membuat kami sepaham bahwa kami benar-benar kehilangan bapak.
Menyusuri jalan-jalan aspal yang memotong persawahan, sama halnya mencium kembali kenangan saat aku dan bapak sama-sama menyukai lumpur dan hijau daun. Terkadang bapak menggodaku dengan mencipratkan air sawah ke tubuhku. Aku balas dengan kenakalan anak-anak. Sementara Ehal telah lebih dulu membasahi kakinya dengan lumpur. Ia memang lebih mahir memikat perhatian bapak daripada aku. Persis seperti kisah Kain dan Habil dalam kitab Genesis. Tapi bapak tidak pilih-pilih. Bapak lebih suka tertawa saat kami akur dan saling manja.
Udara desa semakin terasa. Demikianpun, aku membaui kampung tempat bapak menuai hasil cucuran keringat, juga tempat bapak melewati masa sabatikel bersama Mak.
Perjalanan makin menyempit pada jalan setapak yang menurun, melewati sebuah jembatan kecil yang melintangi kali Opak. Mak berdiri di depan pintu, tersenyum tapi tak sepenuhnya bahagia melihatku. Aku tahu, Mak telah menahan gumpalan air mata sejak tahu rencana kedatanganku. Tangis Mak memang telah dihabiskannya kemarin saat pemakaman bapak. Tapi sekarang, Mak mencurahkan air mata untukku. Di dalam pelukan Mak, aku menahan rasa malu sekaligus rindu, karena terlambat datang. “Maafkan Raga, Mak. Kemarin saya tak bisa pulang,” tiba-tiba aku merajuk seolah minta pengampunan dari Mak. Mak tak berkata sepatah pun. Hanya dari belaian tangan di rambutku, aku tahu, Mak tak pernah marah kepadaku. Mak mengajakku masuk, minum teh hangat, dan segera menyiapkan sarapan buatku.
Entah sejak kapan hubungan eratku dengan Mak makin menjadi. Yang pasti, Mak kerap menggantikan rasa kangenku pada ibu di rumah. Mak selalu bisa menyapaku dengan sebutan thole (anak laki-laki Jawa).
Jadi, melihat Mak bercerita (saat sekarang ini) tentang bapak, hampir aku tak kuat menahan jatuhnya mendung di mata. Beberapa kali aku tarik napas sekadar menghilangkan rasa sesak, ketika Mak mengadukan detik-detik terakhirnya bersama bapak. “Agh, Mak. Sudahlah Mak. Mak tidak boleh bersedih lagi. Sekarang bapak sudah tenang tidur di pangkuan-Nya,” begitu hiburku.
Sore harinya, aku melayat bapak di nisannya. Selamat jalan bapak.
Dan pada Mak, terima kasih banyak. Terima kasih Bapak. Meski aku tak melihatmu untuk yang terakhir kali, tapi bagiku bapak tetap di hati, bersemayam tinggal di jiwaku. Rest in peace, bapak!

Nagrak, 2008

Tinggalkan komentar