IRONI KARTIDJO

Ioannes B. Dieuta

Setengah mengeluh, Kartidjo, suamiku, tetap bekerja menghitung surat suara. Sebentar dilongoknya arsip dan berkas-berkas dari kabupaten. Satu persatu, tangannya yang mulai merenta, membolak-balik data nama pemilih. Kacamatanya yang berbingkai hitam tebal, menambah kesan ketuaan.

Ini kopinya, Pak!” Salimah menyodorkan segelas kopi pahit kesukaannya. “Taruh saja di situ, Bune!” Jawab Kartidjo tanpa menoleh.

Karmin ke mana,

Bune?”

Ada apa, Pak!” Karmin tiba-tiba menyahut dari balik pintu sambil menenteng sepatu bututnya. “Lho, sepatumu kok dicangking, le?”

Kecebur sawah, Pak. Tadi jalan di tegalan licin. Teruus…”

Ya, sudah. Banyak alasan. Nanti setelah kamu mandi, kamu pasang spanduk pilihan gubernur ini di balai desa!” kata Kartidjo.

Mendengar permintaan bapaknya, Karmin hanya mengangguk. Karmin tahu, perintah bapaknya adalah harga mati, tak mungkin ditolak. Meskipun niat semula Karmin ingin bermain sepak bola di lapangan desa, tapi Karmin segera mengurungkan niatnya.

**

Beberapa pekan ini, kesibukan Kartidjo bertambah. Sebagai panitia pemilihan gubernur Jawa Tengah atau KPPS, suamiku harus meluangkan waktu untuk rapat ini rapat itu. Sepertinya, Kartidjo sudah kembali bergairah.

Jauh sebelum itu, sejak kekalahannya dari pilihan kepala desa, Kartidjo lebih suka berdiam diri. Atau menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya di sekolah. Maklumlah, Kartidjo harus menelan kepahitan berlipat. Tidak menang dalam pilkades, jatuh pula dalam jeratan hutang yang menumpuk.

Tapi sekarang, sepertinya Kartidjo berniat mengambil kesempatan. Setelah dipercaya sebagai ketua KPPS, ia kembali rajin berkegiatan di desa. Kartidjo tahu, pilkades berlangsung sebentar lagi.

Untuk apa mencalonkan diri lagi, Pak! Mbok sudah. Kalau sudah kalah ya diterima. Lha wong sekarang saja hutang kita masih banyak. Mau dibayar pake apa lagi hutang-hutang kita ini, Pak?” kata Salimah, bermaksud mencegah keinginan suaminya menyalonkan kades lagi.

Bune. Percaya saja sama yang Di Atas. Kalau niat kita luhur mulia, Gusti pasti mbantu kita!” jawab Kartidjo tetap bersikukuh.

Aku percaya, Pak. Tapi ya kalau kita sendiri gak sadar diri, itu namanya ngoyo, memaksa diri. Bayaran sekolah Tiwi di Madrasah saja, masih sering nunggak!” Salimah masih mencecar tanpa bermaksud menyudutkan.

Kepentingan bapak jauh lebih penting, Bune!” jawab Kartidjo setengah menaikkan nada bicaranya. “Selama ini kita tahu, Bune. Belum ada kepala desa yang becus ngurus desa Kalegok sini. Semuanya pasti mandeg di tengah jalan. Kapan bisa maju desa kita ini, Bu!” Kartijo meninggikan suaranya.

Iya, Pak. Saya tahu. Pendidikan bapak tinggi. Bapak juga pinter. Tapi, mbokya o bapak sadar, warga desa tidak semuanya setuju kalau bapak jadi kades. Mereka penginnya bapak jadi ketua RT saja,” Salimah tak henti-hentinya mengingatkan.

Jauh di dalam hatinya, Salimah sebenarnya ikut merasakan kebanggaan luar biasa jika suaminya menjadi kades. Setidaknya, ia akan dipanggil Bu Kades, dan bukan Bu Jo alias Bu Kartidjo. Terbayang di benaknya, Salimah dengan gagahnya memberi sambutan saat rapat PKK.

Ibu-ibu. Mulai sekarang kita harus memerhatikan kesehatan keluarga. Terutama ibu-ibu muda yang lagi hamil ini. Pastikan kalau anak-anak ibu, mendapatkan ASI yang cukup. Sebab, ASI inilah gizi terbaik untuk anak-anak kita dibandingkan dengan susu buatan pabrik…”

Lha kok senyam-senyum dhewe to, Bune? Ada yang lucu, ya?” tanya Kartidjo keheranan. “Eh, enggak. Nggak ada, Pak! Pokoknya, saya masih nggak setuju kalau bapak nyalon lagi. Titik!”

Lho. Lho. Bentar Bune. Jangan emosi dulu. Coba bayangkan nikmatnya jadi kades, Bune. Yang merasakan tidak hanya kamu dan anak-anak kita. Tapi, cucu-cucu kita nanti juga akan mengenang kita sebagai tokoh masyarakat. Saudara, kerabat, dan keluarga besar Kartidjo Dwijoprawiro juga akan merasa bangga bila ada salah satu trahnya yang jadi kades, Bune!” Kartidjo berusaha meyakinkan Salimah, istrinya.

Salimah terdiam. Sepenuhnya Salimah setuju dengan kata-kata suaminya. Terkadang, kehormatan keluarga harus diletakkan dalam kedudukan atau jabatan. Setidaknya, seluruh keturunan akan mengenangnya sebagai orang besar. Salimah bimbang. Hutang karena kalah dalam pencalonan kades 3 tahun yang lalu masih menumpuk. Belum lagi, cicilan motor yang belum kelar. Biaya sekolah Karmin dan Tiwi juga dipastikan terus naik. Katanya ada dana BOS, tapi tetap saja ada pungutan sekolah. Lalu, darimana semua kebutuhan itu bisa tercukupi.

Sawah warisan sudah ludes. Sertifikat rumah saja masih tertahan di bank. Apa mungkin suaminya masih bisa membiayai pencalonannya nanti. Salimah menatap suaminya, yang masih sibuk mengolak-alik data warga. Diam-diam, Salimah mengagumi keteguhan suaminya.

30 tahun yang lalu, Kartidjo menyunting dirinya. Dengan bekal ijazah SPG-nya, Kartidjo berhasil meyakinkan ibu atau neneknya Karmin. “Saya sudah diterima bekerja sebagai guru honorer di desa Wanasuta, di bawah kaki gunung Slamet. Jadi, ibu tenang saja. Saya pasti akan membahagiakan Alimah,” kata Kartidjo saat meminangku di depan ibu.

Memang benar, segera setelah menikah, Kartidjo memboyongku ke Wanasuta. Mulai dengan menjadi guru honorer, Kartidjo mengajar di SD negeri. Lima tahun berikutnya, Kartidjo diangkat menjadi pegawai negeri. Kartidjo pun ditempatkan di desa Kalegok, tempat di mana keluarga besarku tinggal. Entah kebetulan entah tidak, tapi yang aku tahu, Kartidjo memang yang meminta untuk ditempatkan di daerah asal. Agh ya, zaman dulu masih gampang. Tinggal datang ke kepala dinas dengan membawa buah tangan. Tak lama kemudian SK mutasi pegawai negeri bisa turun.

Menjadi istri pegawai negeri terhitung beruntung. Setiap bulan, kami mendapat jatah beras dari bulog. Meski gaji kecil, tapi soal makan dan sandang, bisa dibilang cukup. Kartidjo juga tak perlu repot beli seragam kantor. Lha wong, tiap tahun sudah dijatah bakal pakaian korpri. Hmm. Gagah benar “oemar bakrie” ini saat memakai korpri, dengan setelan sepatu hitam yang digosok dengan abu arang.

Dengan sepeda jengki, Kartidjo menuju sekolah yang berjarak tujuh kilometer. “Ini perjuangan, Bune. Suatu saat nanti, nasib pegawai negeri mungkin akan lebih baik.” Begitu Kartidjo seringkali menghibur diri.

Seiring dengan perputaran roda zaman, Kartidjo mulai bisa mencicil sepeda motor second yang dibelinya dari pegawai dinas. Sedikit demi sedikit, rumah yang layak huni bisa dibangun. Setidaknya berdinding tembok, meski hanya setengah meter tingginya. Sisanya tetap menggunakan anyaman bambu atau gedheg.

Adalah kemajuan yang tak dinyana, saat Kartidjo mulai aktif berpolitik. Hampir setiap malam, ia melawat ke rumah-rumah warga. Dengan alasan berkunjung atau silaturahmi, ia, yang memang mahir berbicara, menyusupkan doktrin-doktrin kepartaian. “Tidak ada pilihan, Bu!” Kartidjo mengatakannya berulang-ulang. “Kita ini hanya manut yang berkuasa. Kalau tidak ya berarti kita tidak makan to, Bu.” Kartidjo menegaskan.

Di lain waktu, Kartidjo lantang berorasi saat menjadi jurkam. Sesekali penonton pun berteriak mengikuti teriakan Kartidjo. “Hidup Kunyit..! Hidup Kunyit..! Hidup Kunyit..!” Warga kompak meneriakkan nama partai, lalu membahanakan yel yel sambil mengacung-acungkan dua jarinya tinggi. Selepas berorasi, Kartidjo pun melepaskan rompinya lalu melemparkan ke tengah-tengah penonton. Maka, riuh rendah penonton makin bergemuruh saat muncul para biduan di atas panggung. Hiburan rakyat, dimulai.

Tapi zaman sudah berobah, Pak! Bapak tak mungkin lagi bisa kayak dulu!” Demikian Salimah dulu, setiap kali mengingatkan saat Kartidjo mencalonkan diri sebagai kades. Mungkin ada benarnya kata Salimah. Buktinya, Kartidjo tidak terpilih menjadi kades, meskipun hanya selisih puluhan suara dari kades terpilih. Kalah tetap kalah, bukan.

Setelah kekalahannya, Kartidjo kembali ber-sekolah. Teman-teman sejawatnya memakluminya, bila berhari-hari Kartidjo tidak berdinas. Ya, Kartidjo memang bukan lagi guru biasa. Sejak 10 tahun yang lalu, Kartidjo diangkat menjadi kepala sekolah. Itu diperolehnya setelah ia mendapatkan ijazah sarjana pendidikan di IKIP Semarang.

Dan, kini menjelang pilkades berikutnya, Kartidjo makin membulatkan tekad. Seperti hendak mempraktikkan ilmu politiknya dulu, Kartidjo pun mulai bergerilya. Hampir tiap malam, Kartidjo menyambangi warga. Pada saat pertemuan-pertemuan RW, Kartidjo juga hadir. Ia pun mengumbar jiwa sosialnya. “Bapak Ibu sekaliyan. Dengan keprihatinan mendalam dan dengan ketulusan hati, saya akan menanggung semua biaya pembangunan rumah Mbah Salim!”

Sambutan Kartidjo disambut meriah. Mbak Salim, yang sudah hidup sebatang kara, ikut tersenyum. “Terima kasih, mas Kartidjo, yang sudi berbaik hati membangun gubug reot saya. Gusti ora sare, nak Mas!” ucap Mbak Salim berbinar.

Kartidjo juga aktif mengikuti kegiatan olahraga bersama Karang Taruna. Bila selesai bermain sepak bola, Kartidjo memborong es dawet Mbok Marti lalu membagikannya kepada para pemain.

Ketenaran Kartidjo tersebar ke seluruh penjuru desa. Di warung Mbok Marti, terdengar khasak-khusuk. “Agh, itu hanya taktik Kartidjo saja untuk mendapat simpati kita!” Kata Bendot, seorang tukang becak. “Ya gakpapa to. Selama yang dilakukan mas Kartidjo itu baik dan tidak merugikan, kita patut mendukung!” Sahut Narwidi yang masih sepupu Kartidjo.

Tau gak, sampeyan semua. Hutang Kartidjo pada saya yang masih 15 juta saja belum lunas, kok mau nyalon lagi!” Kata Bawor, juragan beras. “Huss. Hutang orang jangan diumbar, saru!” hardik Haji Abu.

**

Waktu terus berputar. Kartidjo pun naik ke pentas pemilu, sebagai calon kepala desa. Satu demi satu, warga desa memberikan hak pilihnya. Dengan berpakaian adat Jawa, Kartidjo bak seorang raja yang sedang bertahta, duduk dengan gagahnya. Senyum Kartidjo tak pernah surut menebar ke semua orang yang hadir. Kecuali Salimah. Tak ada Salimah di sana.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ketua panitia mengumumkan hasil pilkades. “Hidup Kartidjo! Hidup Kartidjo!” teriak para pendukungnya. Namun, belum selesai penghitungan suara, tiba-tiba terdengar teriakan keras dari balik kerumunan warga.

Hentikan, Pak!” Sebuah suara menghentak semua orang yang hadir, tak terkecuali Kartidjo.

Bu Salimah?!” Warga yang berkerumun terkejut bukan kepalang, melihat Salimah menghunus pisau.

Bune?!” teriak Kartidjo, yang segera berlari turun dari panggung pemilihan. “Tenang, Bune. Tenang. Yang sabar. Nyebut. Nyebut!” Kartidjo bermaksud menenangkan istrinya.

Kalau bapak masih nekad mencalonkan diri jadi kades, saya akan bunuh diri! Bapak gak tahu malu apa! Hutang kita masih banyak! Saya sudah lelah tiap hari ditagih orang!” teriak Salimah seperti kesurupan.

Beberapa hansip dan polisi yang sedang bertugas berusaha meringkus Salimah. Tapi gagal. Salimah bertambah garang.

Iya Bune. Ya sudah. Sudah. Bapak membatalkan niat bapak jadi kades!” kata Kartidjo setenang mungkin. “Nah, bapak-bapak dan ibu-ibu warga desa Kalegok yang saya cintai. Dengan segala kerendahan hati dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, saya Kartidjo Dwijoprawiro mengundurkan diri dari pencalonan kepala desa, sekarang juga!”

Warga desa diam seribu bahasa. Bingung. Kaget. Tak percaya. Namun, tiba-tiba dari arah belakang, terdengar teriakan, “Hidup Kartidjo! Hidup Kartidjo!” Sambil mengepalkan tangan kanannya, Narwidi berteriak, yang diikuti oleh semua warga yang hadir.

Kartidjo pun segera membimbing Alimah istrinya, pulang. Dan kembali menjadi warga desa biasa, sampai matinya.

Nagrak, Medio Juni 2008

Tinggalkan komentar