oleh: Ioannes B. Dieuta
Rutinitas pagi dijalaninya seperti biasa. Menyiapkan peralatan mandi, menyeka suaminya, dan menyuapinya semangkok bubur putih. Ratna, itulah perempuan yang setahun belakangan merangkap-rangkap jabatan. Bukan saja sebagai isteri dari Roe, ibu dari Sasha dan Denis, wanita karier, dan terakhir menjadi perawat bagi suaminya.
Sasha dan Denis sudah cukup usia untuk dibiarkan bermain. Sasha pun berlaku sebagai kakak pengasuh yang baik bagi Denis. Meskipun sering dibalas Denis dengan kejutan dan kenakalan. Namun, setidaknya saat ini, Sasha dan Denis bisa memahami kesibukan ibunya.
“Aku berangkat dulu, Mas!” sapa Ratna sambil mengecup kening Roe, suaminya. Ada segumpal awan hitam di pelupuk mata Ratna, setiap kali hendak berpamitan. Bagaimana tidak. Roe, lelaki yang menikahinya 6 tahun lalu kini sama sekali tak berdaya. “Gejala stroke”, kata dokter Ali setahun yang lalu. Sejak Roe jatuh sakit itulah, Ratna memutuskan untuk kembali bekerja, sama seperti sebelum ia menikah dulu.
Mata Roe menatap paras ayu isterinya. Dengan ibu jarinya, ia menyematkan tanda salib di kening isterinya. Lalu melepas Ratna hingga lenyap di balik pintu.
Setelah Ratna pergi, Roe meneruskan tidurnya. Tapi kali ini, matanya tidak bisa terpejam seperti biasanya. Ada perasaan bersalah yang menghunjam dadanya. Jauh sebelum sakit, Roe adalah singa yang garang. Pulang tengah malam dalam kemabukan, membanting pintu, dan menganiaya Ratna dengan semena-mena.
“Oh…” Roe membatin, “Tuhan, maafkan aku yang selama ini mengabaikan keluargaku. Berkatilah isteriku dan anak-anakku!” Dan, bulir-bulir lembut merembes dari kelopak matanya yang sayu. Sesaat kemudian, ia pun terlelap.
**
Sasha dan Denis tiba di rumah. “Sasha pulang sekolah, Pah!” Sasha meraih tangan kanan ayahnya, disusul oleh Denis yang melakukan hal sama. “Deni pulang, Pah!”
Roe memaksakan diri untuk tersenyum. Sangat ia syukuri kehebatan Tuhan membentuk kedua anaknya. Meski baru 5 tahun, Sasha tumbuh sebagai kakak yang dewasa. Sedangkan Denis, meski sedikit nakal tapi penurut.
“Papa, Papa. Tadi Denis diberi apel sama suster Marta lho…!” Kata Denis sambil memamerkan apel di tangannya. Roe mengangkat ibu jari kanannya dan menunjukkannya pada Denis. Setelahnya, Denis berlari ke belakang lalu segera kembali ke hadapan ayahnya.
“Setengah untuk Denis, setengah untuk kak Sasha,” Kata Denis seraya memberikan setengah apelnya kepada Sasha. Roe kembali tersenyum bangga. Seolah ia sedang melihat keajaiban dari hari ke hari, bahkan dari menit ke menit. “Kamu telah berhasil mendidik anak-anakmu dengan baik, Ratna!” Roe mendesah.
Sore harinya. Ratna kembali ke rumah. Setelah meletakkan sepatunya di rak, Ratna menghampiri suaminya.
“Mas, aku punya berita gembira. Mau dengar?”
Roe mengangguk mengiyakan. Ratna meneruskan. “Aku dipromosikan naik jabatan, Mas. Tadi atasanku langsung yang memberitahuku.” Roe kembali tersenyum sambil menepuk-nepukkan tangannya ke pundak isterinya.
“Tapi, Mas. Aku … aku menolaknya, Mas.”
Kening Roe berkerut. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi bibirnya tak sanggup berucap.
Ratna mengerti. Suaminya ingin bertanya alasan penolakannya. Tetapi berikutnya, justru Sasha dan Denis yang menghambur ke pelukan Ratna. “Mama …!” Sasha dan Denis memeluk Ratna dengan manja.
“Eh, Sasha, Denis. Mama kangen kalian. Sasha, kamu jaga adikmu dengan baik, kan?”
“Iya dong. Tuh, perut Denis jadi tambah ndut… karena Sasha terus memberinya makan..ha ha…” Tawa ibu dan anak itu pun meledak. Roe yang terbaring di sampingnya juga ikut tersenyum.
“Nah, kalian belajar dulu gih. Mama mau bicara dengan Papa. Ok!” Ratna pun mengangkat telapak tangannya, disusul dengan telapak tangan Sasha dan Denis yang menepuknya. “Ok, Mama!” Keduanya berkata serempak.
Di kamar itu, kembali Ratna dan Roe merenda malam. “Aku teruskan, ya Mas. Promosi jabatan itu memang membuat aku gembira, Mas. Tetapi, aku justru tidak tenang, Mas. Kamu tahu kenapa?”
Roe menggeleng pelan.
“Dengan naik jabatan itu berarti kesibukanku bertambah, Mas. Dan satu hal yang pasti, aku pasti akan sering ke luar kota. Itu sama artinya aku akan kehilangan waktu untuk merawatmu, Mas. Biarlah, untuk sementara ini promosi jabatan itu aku abaikan dulu. Sampai nanti Mas sembuh.”
Roe terdiam. Detak jarum beker di meja terdengar berirama. Suasana hening. “Oh, Tuhan. Terima kasih telah mengirim malaikat untuk menjadi pasanganku. Terima kasih Tuhan!” Roe memanjatkan doa dalam hati.
Roe memberi isyarat agar diberikan kertas dan pena. Ratna tahu, Roe ingin mengungkapkan sesuatu.
“Kamu marah, ya Mas?” tanya Ratna dengan hati-hati.
Terlihat Roe sedang menuliskan sesuatu. Sebentar kemudian, Roe menunjukkannya pada Ratna. Dengan rangkaian huruf-huruf yang tak lengkap, Ratna mencoba mengejanya.
“Thx. Y’re my angel!”
Setelah membaca kalimat terakhir dari Roe, Ratna segera meraih tangan Roe, menciuminya dengan hangat.
“Terima kasih, suamiku. Kamu juga malaikatku. Tetaplah ada untukku!” Keduanya pun larut dalam kebahagiaan. Sementara, tampak dari balik pintu, dua malaikat kecil mereka, Sasha dan Denis menyaksikan kedua orang tuanya dengan haru. Mereka pun segera menghambur dalam pelukan Ratna dan Roe.
Duren Sawit, 2009
Comments