CerpenCerpen

kehidupan adalah cerita, dan cerita adalah bagian dari kehidupan.. semoga cerita-cerita pendek ini menjadi inspirasi… salam Y. Budi U/IB. Dieuta

SARKOWI Cerpen karya Ioannes B. Dieuta

Matinya persis seperti Yudas Iskariot. Lehernya terbebat kain sarung yang diikatkan di celah-celah kusen di atas pintu dapur. Kesamaan dengan Yudas tentu saja hanya matinya, yang bunuh diri. Apa bedanya dengan Sarkowi? Yudas mati karena penyesalan, tapi kakakku jelas tidak jelas. Pasalnya, ia mati tanpa sebab yang diketahui. Ia mati dengan meninggalkan seribu kebaikan yang ia tebarkan di sepanjang hidupnya sekaligus tanda tanya besar di antara orang-orang terdekatnya, termasuk aku, adiknya. Kenapa ia harus memlilih mati dengan membunuh diri?

Tubuhnya masih hangat, saat nenekku menemukannya tergantung kaku di papan atas pintu. Nenekku langsung parau, dengan suara tersendat memanggil anak-anaknya, juga cucu-cucu yang lain sambil terus meratapi Sarkowi. Berhamburanlah seluruh penghuni rumah, termasuk aku. Seakan tertusuk sembilu, sakit di dadaku melihat kakak kandungku tergantung tak bernyawa lagi. Ibuku meraung-raung seperti singa yang terluka. Tangannya menggapai tubuh Sarkowi yang masih hangat. Ibu meratap perih, “Kenapa anakku mati… kenapa harus mati dengan cara seperti ini?”

Lain lagi dengan bapakku. Bapak terdiam, tanpa kata. Hanya buliran air mata di kelopak mata yang bicara. Kepalan tangannya membenturkan dinding. Bapak tidak menyalahkan kematian anaknya, tapi bapak menyalahkan dirinya sendiri. Tampak raut muka penyesalan menyelimuti aura Bapak. “Seandainya, aku tidak keras padanya… Aku terlalu bodoh anakku..!” ratap Bapak.

Aku kebingungan. Kusandarkan tubuhku yang hampir terjatuh pada tembok yang telah jadi saksi kematian kakakku. Andaikan saja tembok itu bisa bicara, tentu tak akan seperti ini. Dia bisa berteriak memberitahu kami kenapa kakak melakukan ini.

Bapak masih bisa menahan diri. Ia segera melangkah menenangkan ibu yang hampir tak sadarkan diri. Melihat ketabahan bapak, aku bangkit dari sandaranku. Kutenangkan dua adikku, lalu kami menurunkan tubuh Sarkowi.

Ibuku semakin histeris. Tubuh Sarkowi dimintanya. Ibu memangku Sarkowi serupa pieta. Bapak tercenung. “Dosa apa yang sedang kuperbuat, sehingga anakku harus mati dengan cara begini?” seru Bapak. Nenekku, yang masih sesenggukkan mengutuk diri, “Duh Gusti, kenapa tidak Kau cabut nyawaku saja. Aku yang lebih pantas mati, Gusti. Kenapa Kau ambil cucuku yang masih belia dan tak berdosa ini?”

Tubuh Sarkowi perlahan menjadi dingin. Seiring dengan aliran darahnya yang mandeg, karena membeku. Hatiku perih menyaksikan peristiwa ini. Pasti lebih lebih perih kedukaan yang dirasa Bapak dan Ibu. Sebagai anak kedua, aku tak bisa hanya diam saja. Aku bangkit dan kuajak adik-adikku untuk segera mengurus segala keperluan untuk mengantar jasad kakakku ke rumah keabadian.

***

Tubuh Sarkowi terbaring damai di dalam peti mati yang terbujur di tangah rumah. Rumah yang besar terasa sesak karena kegetiran hati. Tetangga dan kerabat, juga teman-teman Sarkowi datang bergantian, menatap wajah beku dalam peti dan berikhtiar melambungkan doa. Sebuah harapan terucap, “Sarkowi layak diterima di sisi-Nya. Jika tidak di surga, janganlah jiwanya tertambat di neraka.”

Kematian Sarkowi menebar keganjilan di kalangan terdekat Sarkowi. Khasak-khusuk yang lebih mirip pergunjingan merebak ke seluruh pelosok desa, bahkan masuk ke mailing list yahoogroups. Pertanyaan serupa muncul di benak mereka. Kenapa Sarkowi memilih bunuh diri? Kenapa Sarkowi tiba-tiba bunuh diri? Kenapa Sarkowi bisa berpikir sependek itu? Berbagai rumusan pertanyaan bertebaran di angkasa. Tapi, hanya jawaban spekulasi yang terus mengambang.

Waktu terasa berjalan lambat. Pelayat masih terus berdatangan. Segala prosesi untuk mengantar Sarkowi berjalan dengan lancar. Bapak dan ibu memilih diam untuk menutupi kedukaannya. Sementara aku, berusaha sebaik mungkin menghadapi para pelayat yang bertanya ini itu perihal penyebab kematian Sarkowi. Sebisanya kujawab pertanyaan mereka. Padahal hati kecilku juga bertanya-tanya apa penyebabnya.

**

Matahari telah lama tenggelam digulung awan hitam. Padahal waktu masih pukul tiga sore. Langit seolah ikut berkabung atas kematian Sarkowi. Sesekali sekawanan kalong bermigrasi dari ujung selatan ke utara. Lalu segerombol burung Emprit mencicit bernyanyi “requiem”.

Malam harinya seruan doa-doa menggaung di rumahku. Doa-doa itu terdengar sangat syahdu sekaligus miris. Orang yang didoakan tak bisa lagi tampak dalam kenyataan, yang tertinggal hanya cerita kenangan bersama Sarkowi.

Warga desa lebih mengenal Sarkowi daripada aku, adiknya. Kakakku itu suka sekali berkegiatan ke sana ke sini, panitia ini dan itu. Tak heran jika, meski malam telah larut, usai doa-doa dikumandangkan, orang-orang masih berkerumum di seputar rumah. Aku tak ikut bergabung dengan mereka. Aku hanya mendengar dari dalam rumah obrolan mereka.

Ha ha ha…siapa yang bisa menebak datangnya kematian!” kelakar Sentot, tetua desa. Ketawanya bukan berarti mengejek, tapi lebih mirip satir. Sebagaimana Heiddeger menakuti kematiannya sendiri. Sentot, tak ubahnya seperti orang-orang lainnya tak pernah bisa menerka datangnya kematian, termasuk kematian Sarkowi. Waktu kematian selalu menjadi misteri, tersembunyi.

Mungkin beginilah cara Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya!” petuah Wak Abu dari balik rokok klobotnya yang terus mengepul. Teman-teman sejawat Sarkowi di desa memberi asumsi lain. Mereka tak menyangka, sekaligus terus bertanya dan mengulur kembali film kebersamaan mereka dengan Sarkowi.

Sarkowi paling jago main sepak bola dan voli. Sekarang… tidak ada lagi pemain unggul di desa kita. Ah, Sarkowi…kematianmu terlalu mengenaskan,” kata Arkan getir.

Pemuda yang lain ikutan nimbrung, “Eh, kalian tahu tidak, ternyata Sarkowi sempat merantau ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Ingat kan, Sarkowi sempat tak pernah kelihatan di desa kita. Ini aku kenalkan teman kuliah Sarkowi. Hendra namanya.”

Seorang pemuda seusia Sarkowi berujar sambil mengulurkan tangan, “Saya Hendra. Benar sekali, saya teman kuliah Sarkowi di Yogyakarta. Hmm, Sampeyan pasti ngerti kalau Sarkowi itu anak yang pintar. Di kampus, Sarkowi tak pernah absen berkegiatan.” Teman-teman Sarkowi semakin heran.

Oh…jadi selama ini Sarkowi benar-benar kuliah to…. Lha apa Sarkowi itu ikut aliran sesat kok bisa-bisanya bunuh diri?” tanya Arkan pada Hendra.

Dewi, teman lain sekuliahan Sarkowi menimpali, “Emm, enggak. Setahu saya, Sarkowi justru tergolong anak yang rajin beribadah. Maksud saya, hampir setiap minggu, ia aktif ke gereja. Bahkan ia yang tak pernah absen mengikuti retret dan kegiatan-kegiatan keagamaan lain. Sarkowi tak pernah absen. Dalam kegiatannya, Sarkowi selalu bersemangat, tak pernah mengeluh dan suka membantu orang lain.” Begitulah Dewi bercerita panjang lebar.

Emm, Neng pacarnya Sarkowi, ya?” tanya Barka penasaran.

Emm, nggak, saya temannya, seperti Hendra. Kebetulan saja saya sering bersama Sarkowi melakukan kegiatan itu. Jadi sedikit banyak saya tahu kepribadian Sarkowi.”

***

Sketsa perjalanan hidup Sarkowi perlahan mulai terkuak. Aku mengumpulkan ingatan-ingatanku tentang peristiwa yang dialami Sarkowi.

Sebelum meninggal, Sarkowi mengalami beberapa gejala aneh. Waktu itu aku dan Sarkowi sedang menuju kampung dengan naik kereta. Tiba-tiba tubuh Sarkowi mengejang. Para penumpang lain kaget bukan kepalang. Untunglah, Sarkowi cepat sadarkan diri. Sarkowi bercerita. “Aku sadar kalau aku sedang melawan kekuatan besar. Aku mencoba terus melawan, tapi aku tak kuat. Ia benar-benar raksasa; bahkan ia seperti sudah menerkamku, menelanku mentah-mentah.”

Tapi, cerita Sarkowi kuanggap angin lalu, bunga tidur. Paling lazim, Sarkowi dikatakan “kesurupan”, kemasukan roh persawahan atau mungkin lorong gelap di Cirebon. Tapi, tidak ada yang tahu itu. Kepadaku, yang sedari tadi terdiam, Sarkowi kembali bercerita. “Dik”, begitu Sarkowi sering memanggilku. “Aku merasakan sesuatu yang lain, Dik. Jiwaku seolah tercerabut dari akar jantungku. Perih, sakiiit sekali, Dik,” cerocos Sarkowi seolah tak mempedulikan keheranan orang-orang di sekelilingnya. Tak bedanya denganku, seperti mengiring seorang pesakitan ke pemasungan. Aku menganggap ucapannya sebagai igauan. Dan, Sarkowi, dengan tubuh yang masih berkeringat, telah terlelap dalam mimpi-mimpi yang tak sempurna.

Keesokan harinya, kami sampai di tujuan, di rumahku juga rumah Sarkowi di sebuah dusun di Kuningan. Aku dan Sarkowi menuju rumah.

***

Kalender gereja hampir menginjak kaki pada peringatan matinya Santo Fransiskus. Sementara, berita kematian Sarkowi merebak ke seluruh penjuru negeri. Meski yang tercium hanyalah bau kamboja dan bunga malam yang tak sedap.

Padahal Sarkowi pernah berujar, bahwa ia ingin mati sebagai tahanan politik. Aneh. Apa untungnya berstatus tahanan politik. Kalau tidak, selamanya “cacat” di mata bangsa. Tapi, begitulah Sarkowi. Panah semangatnya yang melesat bagaikan kijang memburu kepenatannya akan dunianya yang kecil mengenai Tuhannya.

Sarkowi, mengenal Nietszche yang mati sebagai schizofrenia. Ia juga mengenal Bertrand Russell, yang antituhan, tapi tidak anti kebaikan. Pengalaman berkegiatan, membuat Sarkowi cukup laris diundang ceramah soal ketuhanan yang waktu itu, ia sendiri tidak temukan. Karena itu, Sarkowi memilih menetapkan hatinya pada fakultas tak bergengsi, fakultas pendidikan agama. Bapak kecewa, ibu juga kecewa. Tapi Sarkowi tetap memilih berpindah dari fakultas Bahasa Inggris yang bisa membawa masa depannya cerah.

Tapi, itulah Sarkowi yang tak lekang atau lapuk melakukan perubahan. Ia bergetar saat kaki-kaki gunung meradang. Ombak bergemuruh di Pantai Parangtritis, dan saat bumi menghentakkan genderang, memuntahkan dan menjungkirbalikkan rumah-rumah dan kehidupan jelata Yogyakarta. Sarkowi berlari, bukan untuk melarikan diri. Tapi berlari menyongsong matahari. Sarkowi menghadang angin ribut dengan kibasan hatinya yang tulus, lalu membalut luka anak-anak desa dengan ikhlas.

Namun, tak ada yang tahu batin Sarkowi bergolak. Hingga Sarkowi terduduk lemas, sendirian dalam kecemasan yang dahsyat.

Di barisan depan, Sarkowi memimpin distribusi makanan pada para korban bencana gempa. Sarkowi gagah berani, bahkan berteriak lebih keras saat anggotanya tak beres bekerja. “Ini nyawa manusia yang kelaparan dan kedinginan tak bisa ditunda dengan rapat-rapat ini dan itu, rapat anu dan anu!” seru Sarkowi. Sarkowi menerobos hujan dan badai demi menggapai seorang bocah yang terpatri di sudut rumah. Lalu, ia kepakan sayap ke tengah guyuran hujan, berbaur dengan derita, anyir darah, dan bau keringat. Agh ya Sarkowi, barangkali hanya mematuhi sepuluh perintah Allah, sesuai ajarannya di kuliah.

Namun, tak ada yang tahu batin Sarkowi bergolak. Sarkowi terengah-engah sendiri. Dadanya terlalu bidang untuk menahan berat beban batin yang begolak.

Sarkowi melurug bantuan ke Pemda. Beberapa karung beras dan mie instan segera ia bawa ke pedesaan terpencil, tempat ia bermarkas sebagai sukarelawan. Begitu seterusnya, setiap hari Sarkowi berkeliling menyelamatkan korban-korban yang sekarat tertimbun reruntuhan gedung dan rumah yang menjadi puing. Sarkowi benar-benar bermental baja. Dadanya mendesah, saat didengar jerit tangis bayi dan rintih ibu-ibu muda yang kehilangan suaminya. Demikianlah Sarkowi, datang bagaikan bala tentara yang siap bertempur, siap mati.

Namun, tak ada yang tahu batin Sarkowi bergolak. Sarkowi lantas merendam diri dalam kesendirian.

Tuhan tidak adil!” batin Sarkowi menjerit. “Tuhan benar-benar tidak adil. Mengapa orang-orang yang menderita semakin Kau buat derita. Apa pedulimu, Gustiii…” Sarkowi meneriak di kerongkongannya sendiri.

Sarkowi menggugat, tapi tak tahu kepada siapa. Sarkowi hanya merasa, bangku kuliahnya tak berguna lagi. Semua kuliah teologi adalah omong kosong. Tuhan yang takabur, kini benar-benar sombong lalu meluluhlantakkan rakyat kecil, jelata, seperti mengibas debu dengan ekornya. Apa ada yang perlu dibela dari-Nya? Apalah jadinya, jika Tuhan yang ia yakini kemurahannya, berbelas kasih, tak bisa berubah menjadi lebih lemah lembut. Tuhan terlalu perkasa. Semua teori tentang-Nya hanya rekayasa, biar Dia semakin besar. Tapi, nyatanya, ia tak sedikitpun menaruh belas kasih kepada manusia. Sarkowi tertegun, tercenung. Bimbang. Sarkowi menuliskan semua itu dalam catatan kehidupannya.

**

Sesampainya di rumah, selang dua bulan ia menjadi sukarelawan di Bantul Yogyakarta, ia lebih memilih kesunyian, di alam baka. Sarkowi melepas kepenatannya dengan beristirahat selamanya. Dan, Sarkowi hanya bisa kami pahami dalam jejak-jejaknya yang mumpuni mengolah rasa, berempati pada yang miskin; meski dengan catatan, kita ini sedang diuji bukan dicobai.

Sarkowi, selamat jalan, hati kami bersamamu, menemukan Tuhan yang masih dalam seribu mimpi. Sarkowi. Sarkowi.

In Memoriam bagi seorang sahabat di Kuningan-Jawa Barat, 2006

Nagrak, Juni 2008

(dimuat di harian surabayapost, Minggu, 10 Agustus 2008)

Tinggalkan komentar