DELIVERY ORDER KORAN BEKAS
Sudah jamak rasanya, bila hari gini punya hape! Hampir setiap orang baik yang memiliki mobilitas tinggi, sedang, maupun biasa saja TENTU mempunyai hp atau cellular sebagai alat komunikasi. Apalagi bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis; hp adalah alat komunikasi yang vital. Tapi, siapa menduga, kalau pengguna hp itu adalah seorang pemulung atau pengumpul barang-barang bekas???
Pagi ini, saya berniat ‘cuci gudang’ koran-koran bekas yang sudah menggunung. Saya tak berniat membawa koran-koran bekas itu ke pengepul koran, karena saya tahu hampir setiap hari selalu ada pengumpul barang-barang bekas yang lewat di depan rumah. Benar saja, tidak berapa lama terdengar teriakan keras dengan intonasi yang diseret-seret. “Baraaang, koraaann, baraaangg…!”
Maka, segera saya panggil bapak itu dan mencoba bertanya, berapa harga koran bekas per kilogramnya. “700 Om!” jawabnya. Sebenarnya, mungkin harga itu terlalu rendah. Sebab saya tahu, harga koran bekas tahun 2000-an sudah mencapai Rp 800 rupiah. Tetapi itu di Jogja. Tidak tahu kalau di Jakarta; saya tidak begitu paham harga pasaran koran bekas. Setelah saya tawar, tapi hasilnya mentog juga. Akhirnya saya tetap menjual koran bekas itu Rp 700/kg. Setelah ditimbang dan dibayarkan, saya mengucap terima kasih (seperti biasanya saya lakukan). Tetapi, apa yang terjadi. Bapak itu tak kunjung pergi, malah berhenti mematung untuk beberapa saat di depan saya. Meski ia sudah menjawab ucapan terima kasih saya, tapi sepertinya ia belum berminat untuk pergi. Saya mencoba mengulang. “Baik, Pak. Terima kasih!” Duuuerrr. Bapak itu seperti tersadar dari lamunannya. Tapi, bukan ucapan pamit yang kemudian terlontar dari mulutnya. Tangan kanannya malah merogoh saku baju sebelah dalam dan … SEBUAH HP!!
Untuk sesaat, sekarang saya yang terkaget-kaget. “Begini Om. Nanti kalau Om mau jual koran bekas lagi, Om bisa telpon atau sms saya saja!!” Olalaa, saya tahu sekarang kenapa ia tak segera beranjak. “Ini seperti delivery order saja!”, pikirku. Jadi, bukan saja MacD, Hokben atau Pizza saja yang delivery order ternyata. Koran bekas pun bisa!!! Ck ck ck…
Sementara, di benak bapak itu mungkin terpikir “saya sebagai calon pelanggan baru-nya”! Akhirnya, kami pun bertukar nomor hp. Dan barulah, setelah yakin bahwa saya mencatat nomornya, ia segera berpamitan dan mengucap terima kasih.
Sesaat setelah ia pergi, saya masih tak percaya sekaligus mencoba mengagumi bapak pengumpul koran/barang bekas tadi. Hebat! Orang itu begitu berani dan kreatif. Mungkin saja di luar tugasnya berkeliling dan mencari barang-barang bekas, hp-nya berfungsi sama seperti lainnya; berkomunikasi dengan keluarganya di rumah atau di kampung. Tetapi yang pasti, bapak pengumpul koran bekas ini telah benar-benar memanfaatkan alat komunikasi dengan maksimal.
Sebenarnya, cerita di atas bukanlah fakta baru. Siapa saja orangnya, dari kalangan mana saja, hp menjadi alat komunikasi yang sudah sangat-sangat familiar. Bahkan seorang petani yang sedang mencari rumput, para pemulung, tukang ojeg, kuli-kuli di pasar, para penjual di pasar, sampai penjual sayuran keliling; terimbas dengan buaian kecanggihan teknologi ini. Tetapi, sejauh mana mereka memaksimalkan hp sebagai sarana komunikasi untuk memajukan bisnis atau memperlancar usaha mereka, saya tidak tahu secara persis. Orang punya hp, juga bermacam-macam motivasinya (+ fungsinya)
Bagaimana dengan Anda?
halo pak…ketemu jg akhirnya..
aku dulu juga sempat kaget juga waktu pak sayur langgananku ngeluarin hp-nya dan nawarin no hp-nya.
“ini nomor saya, bu..kalau ibu mau pesen apa aja, tinggal telpon atau SMS saya”.
tau nggak, HP-nya juauuuh lebih canggih dari hp-ku yg masih jadul…