Siang begitu panas. Pilihan paling tepat (dari sebuah perjalanan panjang mengelilingi Jakarta) adalah berlindung di bawah pohon beringin. Berharap mendapat kesegaran oksigen dari daur ulang fotosintesis daunnya. Akhirnya, tempat itu aku temukan, dekat halte di alur jalan kramat raya, Matraman. Saya meminggirkan motor dengan segera. Menenggak sebotol air mineral yang dingin. Asap mengepul berputar-putar dihembus angin, seiring kebul yang keluar dari mulut saya yang mulai kering. Nikmatnya berteduh. Nikmatnya menikmati istirahat di sela panas terik yang menyengat.
Belum habis menikmati sepoi angin, dua orang mendekati saya dengan tergesa. Saya bingung, bercampur takut. Wajah mereka garang dan sangar. Sekelas bintang rock mettalica atau sepultura. Anehnya, orang-orang yang tengah menunggu bis hanya senyam-senyum melihat tingkah mereka. Rasa saya makin tak karuan. Tapi, mulut saya tetap mengebulkan asap rokok. Seorang di antaranya makin mendekat, sejarak 30 centimeter. Lalu terdengar suara setengah merdu, genit, dan mendayu-dayu. “Aku tak mau, bila aku dimadu….” Jantungku hampir copot. Rokok di mulutku hampir terjungkal terlempar oleh batukku yang tiba-tiba menerjang.
“Oalah..,” hati saya tak kuat menahan tawa. Tapi, wajah tetap saya usahakan serius. Takut mereka bereaksi di luar dugaan saya. Seorang di antaranya tetap bernyanyi, dan seorang lagi mengiringinya dengan kecrek yang terbuat dari seng aluminium tutup batu baterai. Akhirnya, karena sudah tak kuat lagi menahan, saya pun segera melambaikan tangan; memotong nyanyian. Nyanyian terhenti. Saya deg deg degan, menunggu apa yang berikutnya terjadi. Agak menyesal kenapa saya harus lambaikan tangan. Seharusnya tadi saya beri saja 1000 perak. Selesai, dan saya bisa segera terbebas dari rasa cemas. Tetapi, entah kapan dan dari mana datangnya, tiba-tiba tangannya menyentuh pundak saya, memijatnya dengan sedikit rayuan, “Bagi rokoknya dong, Om! Masak rokok saja tak boleh…!” Mak plas. Saya serasa ditampar. Bukan karena permohonannya yang terkesan merajuk, tapi lebih karena saya paling tak bisa menolak. Detik berlalu dengan cepat, dan keputusan harus segera dibuat, tepatnya disudahi. Tangannya masih menggelayut di pundak, yang segera saya singkirkan dengan perlahan. “Maaf sekali (dengan apa saya harus menyebutnya; mas, mbak, om… ah… bingung). Rokok saya habis. Ini saja beli ngecer,” saya beralasan. Padahal di kantong celana saya, masih ada sebungkus rokok. Eh, gak taunya, jurus mengelak saya berhasil telak. Mereka pun ngeloyor. Tentu sambil menggumam, senandung kejengkelan.
Lega hati saya. Rasa was-was berakhir sudah. Kepulan asap rokok pun kembali bisa saya nikmati. Tapi, jujur saja saya sempat tak enak hati. Rasa-rasanya saya begitu kejam. Kenapa saya tidak memberinya sebatang rokok. Atau mungkin….
Mungkin saja saya sudah terlanjur memposisikan diri sebagai seorang laki-laki sejati. Tepatnya, manusia normal. Bukan perempuan. Juga bukan banci. Agh ya. Kenapa mereka disebut banci. Apa sejak nenek moyang lahir dan beranak pinak ada jenis-jenis manusia dengan kelamin membingungkan. Dogmatisasi ke”ada”an perempuan dan laki-laki, sejak taman kanak-kanak hingga tua dalam pelajaran agama juga pendidikan moral ala keluarga. Tak ada makhluk yang mendua, laki-laki perempuan (XXy atau perempuan laki-laki (XyX). Kromosom laki-laki adalah XY, kromosom perempuan XX. Di luar itu adalah kelainan, syndrom.
Barangkali, saya mempelakukannya seperti negara maju memperlakukan negara berkembang, negara ketiga. Yang maju berhak mensubsidi barang apa saja yang ia mau, tentu dengan perhitungan mendapatkan keuntungan yang berlipat.
Norma (anggapan) sosial dan agama tidak memberikan tempat bagi kaum wandu, banci. Sebab, mereka tidak berada dalam strata gender yang similar.
Sejak kecil, saya (dan kedua sodara laki-laki saya) diperlakukan sebagaimana laki-laki. Diberi pakaian laki, laki, diberi pekerjaan laki-laki; mencari rumput, menimba air, menjaga rumah. Pokoknya pekerjaan sebagaimana harus dilakukan oleh laki-laki. Beda dengan adik perempuan yang paling bungsu. Dia ditempatkan benar-benar sebagai perempuan; mencuci baju, mencuci piring, menyapu lantai. Demikian pun dalam bermain, kami yang laki-laki sedikit diberi kelonggaran waktu bermain. Sementara adik perempuan saya amat dilarang bermain hingga tengah malam, di larang tidur terlalu larut, dan sebagainya.
Penanaman nilai bergenus maskulinum atau femininum telah ada sejak manusia lahir ke dunia. Dari soal pakaian, menu makanan, termasuk nama-nama kita disesuaikan dengan gender seksual kita. Rudi, Gatot, Ahmad, Bowo adalah nama-nama yang pas untuk anak laki-laki. Maka, saat nama itu diakukan sebagai nama panggilan untuk kaum perempuan, reaksi spontan kaget pun tak bisa ditolak. “Masa namamu kayak anak laki-laki,” begitu komentar dengan nada sumbang.
Itulah mengapa, genus laki-laki dan perempuan selalu menimbulkan normativitas yang akan selalu berbenturan dengan genus bukan laki-laki dan bukan perempuan, atau genus kedua-duanya. Jadi, apa mereka harus selalu naik kereta ekonomi sebagai alat transportasi untuk kelas bawah dan berekonomi lemah? Ataukah mereka harus selalu kejatah bangsal tiga saat sakit, kamar panas yang tanpa kipas dan ventilasi yang cukup, ditambah hingar bingar orang yang berjejal, tak bisa dibedakan mana si sakit dan mana yang sehat? Apakah selamanya mereka akan hidup dalam “penghakiman”?
Who cares about it?
(upload 2009/2005)
Comments