Jika anda ke Monas, jangan hanya terpesona dengan pucuk monas yang emas. Atau kijang-kijang yang bebas berkeliaran, atas usaha dan jasa baik Sutiyoso. Lihatlah juga di satu sisi lain, bagian luar monas yang menghadap istana negara. Anda akan tahu, jejak-jejak kaki mantan-mantan presiden RI. Ini cocok untuk wisata anak-anak SD atau SMP yang ingin tahu sejarah bangsa. Sang guru cukup menjelaskan sejarah bangsa dari jejak berupa tapak kaki tersebut. Mulai dari presiden Soekarno hingga putrinya, Megawati (sebab SBY belum jadi mantan) – tapi saya pernah membaca di Kompas kalau SBY juga sudah melakukan ritual menapakkan kakinya yang nanti akan disejajarkan dengan tapak-tapak mantan presiden yang lain – dalam satu deretan jejak yang hanya berjarak kurang lebih 1 meter.

Jejak kaki. Mungkin berlapis emas, karena warna kekuningan gelap amat dominan. Saya tidak tahu bagaimana caranya membujuk kelima mantan presiden supaya mau menjejakkan kakinya di atas lapisan semen. Menariknya, tapak-tapak kaki itu pun diberi nama plus tahun berkuasa. Berderet dari sebelah kiri (menghadap monas) Megawati (2001-2004), BJ. Habibie (1998-1999), Ir. Soekarno (1945-1966), Soeharto (1966-1998), dan paling kanan dan paling jelas Gus Dur (1999-2001).
Entah kenapa, saya suka berhenti dan mengamati jejak tersebut. Tentu saja setiap kali melewati monas. Sebab, melihat jejak sama artinya berkaca. Bagi saya, ini sama saja dengan kontemplasi. Membayangkan masa-masa pemerintahan sang presiden. Kecuali Soekarno, yang hanya saya kenal lewat buku dan film-film perjuangan. Saya tidak mengalaminya secara langsung. Saya lahir di tahun Soeharto berkuasa.
Masa Soeharto, adalah masa kejayaan militer. Juga pegawai negeri dengan seragam batik meski gaji tak pernah naik. Setidaknya hal itu dialami bapak saya. Saya masih ingat, seusia SD menjelang SMP (menjelang tahun 90-an), hampir di setiap awal bulan, saya disuruh bapak mengambil jatah beras pegawai negeri. Dengan berat bersih mendekati 50 kg, beras tersebut saya boncengkan ke sepeda motor superkap, lalu saya tuntun. Beras itulah yang kami makan setiap hari selama sebulan. Selain juga untuk nyumbang tetangga yang lagi punya gawe.
Semasa zaman Seoharto pula, sejak kecil saya berpolitik. Maksudnya, ya politik ala anak-anak. Asyik dengan bunyi genderang, dan teriakan-teriakan histeris di atas truk saat berkeliling. Atau saat di panggung, setiap kali bapak kampanye; berdiri dengan tangan mengepal; “Hidup beringin!” Begitulah, saya belajar berpolitik. Bapak tak pernah melarang bila saya membuntut bapak. Bapak jurkam yang handal. Massa bisa terbius dengan janji gombal bapak. Meski bapak hanya mengandalkan emosi dan teriakan keras. Dengan ikat kepala kuning, kaos kuning, dan bendera kecil yang kuning pula, saya merasa telah ikut mensukseskan bapak naik jabatan. Kelak, karena keberhasilannya memajukan partai beringin, bapak menjadi kepala sekolah. Bisa dibilang, karena keloyalan bapak pada partai ini, bapak bisa bertahan menjadi pegawai negeri. Karenanya bapak bisa menyekolahkan ketiga anaknya sampai perguruan tinggi, dan bisa kredit motor, perbaiki rumah.
Tetapi, entah kenapa pada awal tahun1996, saya mulai membenci Soeharto. Awalnya, saat itu ada dua orang pemuda dan pemudi datang ke komunitas asrama calon imam di Semarang, katanya mereka buron pemerintah, berkait dengan tuduhan makar dan anarkis. Tuduhan yang cukup fatal untuk memenjarakan seseorang tanpa melalui pengadilan. Anehnya, sang rektor asrama tidak keberatan. Tidak tahu sebabnya, tapi mungkin dia juga (sedikit) membenci Soeharto. Saya sebagai cantrik, tergerak oleh kemurahan hati sang rektor. Jiwa pemberontakan saya seolah mendapat suntikan. Puncaknya, 2 tahun kemudian di tahun kedua kuliah teologi, tepat tanggal 20 Mei 1998, saya ikut berarak ke keraton Yogya. “Ganyang Soeharto dan antek-anteknya! Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan.. dan seterusnya-dan seterusnya..” Sementara para penduduk di sepanjang jalan berbaris menyambut ribuan mahasiswa yang berbaris rapi seperti pawai tujuh belasan. Agh, saya ngeri mengingat itu semua.
Istana tegang. Layar kaca tak pernah berhenti mengalihkan sorotannya ke istana. Kerusuhan di mana-mana. Aksi-aksi demonstran terus menggelombang di seluruh penjuru negeri; dengan satu tuntutan “perubahan”. Menunggu detik demi detik, perubahan demi perubahan yang bergulir sedemikian cepat. Akhirnya, 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan mundur dan menyerahkan kekuasaan pada Habibie. Katanya, “Saya mundur dengan lega lila. Dan akan segera mundur, madheg pandita.” Itu kata-kata yang manis, meski di lain waktu, beliau berujar, “Ora dadi presiden yo ora patheken!”
Mulailah era Habibie. Persisnya saya tidak tahu bagaimana ia memerintah dan menghasilkan sesuatu. Tetapi kegamangan masih saja terjadi. Perubahan presiden untuk kali pertama setelah 32 tahun terasa sedemikian aneh. Ada yang hilang, was-was, dan goncang. Tapi, rakyat percaya pada Habibie. Orang pinter, lulusan Jerman, dan ahli membuat pesawat. Hanya saja, dalam tata politik dan pemerintahan Habibie dinilai kurang ekspert. Satu provinsi yang bergabung sejak tahun 1976, Timor Leste dilepas. Itu saja. Dan, setahun berikutnya, Habibie digusur oleh hasil voting Sidang Istimewa MPR yang memenangkan Gus Dur sebagai presiden baru.
Gus Dur berkuasa dengan karakternya yang khas. Cerdas, humoris, ceplas-ceplos, dan berani. Rasanya, atmosfer kekisruhan bangsa mulai diselimuti kedamaian. Masa-masa transisi pada pencarian bentuk kepemimpinan baru serasa berubah, dan berbenah. Demo dan aksi-aksi mulai mereda, meski tidak sepenuhnya. Kantong-kantong budaya dan agama yang telah lama mampat, dibuka selebar-lebarnya oleh Gus Dur. Tarian barongsai kembali digelar, termasuk perayaan Imlek dan Cap Go Meh mulai marak dipestakan. Keputusan paling kontroversial Gus Dur mungkin saat ia mencabut UU tentang PKI. Meski diprotes oleh banyak kalangan, keputusan Gus Dur tetap melenggang. Gus Dur juga kerap tampil di TV, diwawancarai, dan selalu memberikan guyonan yang segar. Refreinnya, “Gitu aja kok repot!” Guyonan presiden yang bisa menghibur kedukaan rakyat oleh kekuasaan orba.
Tetapi, Gus Dur dianggap tidak konsisten. Banyak orang kesleo oleh omongannya. Esuk dele sore tempe. Gus Dur tetap Gus Dur; hadir dengan gaya yang khas, cerdas, dan mengagetkan, sekaligus menghibur. Mungkin karena itulah, seturut ramalan para tetua zaman kalatidha hampir selesai. Bebendu hampir terlewat. Hadirlah sang ratu Adil.
Setelah kemenangan partainya tak cukup mendudukkannya di kursi presiden, kini Megawati atas putusan bulat rakyat di DPR/MPR memilihnya menggantikan Gus Dur. Meski sebagian kaum ulama tidak merestuinya, Megawati terus maju melaksanakan amanat rakyat. Jadilah, untuk kali pertama dalam sejarah bangsa, Megawati sebagai presiden perempuan pertama. Ibu, begitu dia sering mengidentifikasikan dirinya, tetap maju. Kaum perempuan mulai bangkit, dan diperhitungkan. Aggionarmento, hembusan angin reformasi mulai terasa. Beberapa pejabat korupsi diperiksa. Meski tak semuanya bisa dihukum, karena faktor X. Paling kontroversial, Megawati tak jadi menaikkan TDL dan BBM, pasalnya Megawati (mungkin) lebih ingin populer di kalangan rakyat. Mega juga menolak impor beras dari Thailand, sebagai sinyal pembelaan Megawati pada kaum petani. Satu sikap terpuji yang patut dibanggakan.
Tiga tahun berlalu, pemilu langsung (untuk kali pertama di gelar). SBY terpilih dengan perolehan suara lebih dari 60 juta pemilih. Siklus berputar. Militer (dalam paradigma baru) kembali memimpin negeri. Nampaknya rakyat masih trauma dengan sepatu boot dan pentungan, juga revolver. Militer adalah kekejaman. Tetapi, dengan wibawa dan kearifannya, SBY pun berujar, “Saya memahami. Saya mendengarkan apa yang rakyat suarakan. Jangan takut. Mari kita bangun bangsa dan negara ini bersama-sama. Bersama kita bisa!” Bahkan lebih dari dugaan sebelumnya, SBY amat populer sebagai presiden yang gemar bernyanyi.
Tetapi, mungkin inilah the right man on the wrong place. Keputusan mengurangi subsidi BBM, pada bulan Maret 2005, segera melorotkan popularitas SBY. Namun, sepertinya SBY telah siap dengan segala perlengkapan perang, “saya siap tidak populer!” Dan, keputusan menaikkan harga BBM tetap diketok. Dan sekarang (2009), sang incumbent ini elah bersiap bersaing dengan pelantun irama “lebih cepat lebih baik”, untuk kembali menjejakkan tapak kakinya di monas monument.
Hanya satu benang merah dari kelima presiden plus “presiden kita yang baru” (kata Iwan Fals). Indonesia tetap punya hutang, rakyatnya masih miskin, pengangguran masih meluas, dan pejabat korup tetap merajalela (untuk menghaluskan kata “tak tersentuh”).
Mau jadi apa negeri ini?
Comments