Cuaca mendung di suatu sore, langit telah gelap. Ratusan pengendara motor berburu waktu, kejar mengejar dengan titik-titik air yang mulai jatuh dari langit. Tidak terkecuali aku.
Menuju lampu merah, sebuah suara menggelegar bak halilintar persis 90 cm di sebelah kiri telingaku. Saking kagetnya, laju motorku hampir saja oleng. Rupanya, suara itu berasal dari seorang laki-laki yang membonceng temannya; spontan, intonasi yang tegas juga medhok dan khas dialek Banyumasan, “Eh…Purbalinggane ngendi!” (Purbalingga-nya mana?) Belum sempat aku menjawab, ia sudah menegur lagi, “Plat R – NC Purbalingga kan, Mas?!” Katanya sambil menunjuk plat nopol motorku. Aku tersenyum dan menjawab samar “IYA”, sebelum akhirnya kami berpisah oleh bunyi gaduh klakson di belakang kami sesaat traffict light yang meng-hijau. Selepas menerima sapaan yang tak terduga itu, aku pun hanya tersenyum membatin. Rupanya, di Jakarta ini ada orang yang serumpun denganku (he2). Setidaknya ada orang yang mengenal daerahku dari Plat nopol kendaraanku. Dan, hari-hari berikutnya, aku semakin pede untuk memacu kuda besi ber-plat R xxxx NC milikku menyusuri jalan-jalan Jakarta.
(Pom Bensin Radin Inten). Dengan penuh kecurigaan, aku menoleh ke belakang sesaat merasakan motorku (yang lagi minum bensin) disenggol ban motor lain. Bicaranya samar, hingga aku harus memintanya mengulang. “Dari Purbalingga, ya Mas?!” Katanya sambil menunjuk plat R-NC di motorku. Terjawab sudah kecurigaanku. Aku malah balik menyapanya ramah, “Iya. Lha sampeyan ngendi?” (Iya, Anda sendiri berasal dari mana?). Ia pun tak menolak untuk berbahasa Jawa. “Aku Bobotsari!” Sambil memasang kembali tutup bensin, aku menyahut, “Oh Bobotsari. Sorri, aku dhisit ya…!” (Sorri, aku duluan ya) Dan aku pun segera memacu kuda besiku ke arah pulogadung. Ini kali kedua aku disapa oleh orang asing yang mengenalku lewat plat R – NC.
(Pulogadung, samping atm BNI). Aku mampir membeli koran. Tampak di depanku seorang laki-laki gagah dan kekar yang semula asyik baca koran, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah plat motorku dengan tajam. Aku tak peduli, karena merasa tak punya urusan apapun dengannya. Selesai membayar, laki-laki itu memegang setang motorku seolah hendak menghentikanku, “Purbalingga kan Mas. Nek aku sekang Kejobong!” (Kamu berasal dari- Purbalingga kan Mas. Kalau saya dari Kejobong- salah satu kecamatan di kabupaten Purbalingga).
Lagi-lagi aku dikejutkan oleh sapaan orang asing, hanya karena melihat plat nopol motorku. Selanjutnya, kami pun terlibat perbincangan kurang lebih 5 menit, untuk saling memastikan bahwa kami adalah sama-sama putera daerah Purbalingga. (wuihh bangganya jadi orang purbalingga..hehe..).
(Jalan Kalimalang). Mengirim surat via TIKI di jalan Kalimalang. Seorang pegawai Tiki keluar dan melihatku memarkir motor. “Hm..Plat Purbalingga ya Mas. R-NC purbalingga kan?” Tak jelas benar, ia bertanya apa sekadar meyakinkan keragu-raguannya. “Ya Pak. Purbalingga. Kenapa?” Tanyaku balik. “Enggak. Saya juga asli Purbalingga, Mas!” Ya ya. Lagi-lagi plat motorku membawa keberuntungan. Setidaknya ‘sebuah rasa persaudaraan’. Ya semacam kebanggaan atas kesamaan asal-usul, tempat, daerah atau lazim disebut sebagai primordialisme. Tepatnya, primordialisme ala R-NC.
Sudah beberapa kali plat motorku itu berbicara dengan “bahasa”-nya sendiri. Setidaknya, tanpa kuminta ia sudah mewakili asal-usulku. Bukan dengan maksud untuk menonjolkan kedaerahan, terlebih kesukuan. Apalagi di kota sebesar Jakarta, terkadang rasa kemanusiaan muncul dari primordialisme seperti ini. Harapannya, tentu saja lebih dari itu. Siapapun dan di manapun, primordialisme itu harus lebur dalam nasionalisme. Sebuah rasa satu kesatuan sebagai anak bangsa. Dan bagiku, kuharap plat R-NC ini tidak menjadi bumerang apalagi hambatan untuk mewujudkan primordialisme inklusif (terbuka).

Kamus Populer (Pius: Arkola: 1994)
Primordial: mula-mula, pertama, yang awal, paling dasar, pokok, kelas yang paling bersahaja.
Dialek: bahasa daerah, logat
aku punya pengalaman begini
bukan tentang motor sich
ketika aku ditanya “asli mana?”
“sukabumi” jawabku
“ohhh…sedaerah mak erot donk…” kata penanya
“hah…” kataku bingung. (siapa tuh ma erot)
terus terang aku ga begitu tahu, siapa sih yang dimaksud mak erot.. baru belakang ini aku tahu siapa itu mak erot..
owalahhhh…