Apa motivasi Ulfa (12) menerima pinangan Syekh Pujiono (43)? Selain karena keberhasilan indoktrinasi agama, barangkali sejumput motivasi ekonomi menjadi landasan kuat Ulfa dan keluarga menerima lamaran Puji. “Saya bahagia. Saya tidak merasa tertekan. Saya cinta syekh…” Kata Ulfa pada pers seusai menjalani pemeriksaan di polda semarang. Meski bukan menjadi alasan utama, namun fakta sosial menunjukkan “bergelimangnya” harta Pujiono ini cukup menjadi dorongan kebersediaan Ulfa (dan keluarga) diperistri sang milyarder. Sampai-sampai aturan hukum positif, UU perkawinan No.1 tahun 1974 pun diabaikan.
Andrew Oswald mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Gejala ini disebutnya happiness economic. Di mana kebahagiaan (diukur) sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah berhenti untuk meningkatkan kebutuhannya. (taken from “Gengsi” by Eileen Rachman-EXPERD, Karier Kompas-Sabtu 7 Nov.2008).
Happiness economic baik skala kecil maupun skala besar dalam konteks ini sebenarnya lebih kepada pengertian gengsi, reputasi, atau esteem yang mengarah pada pembentukan image seseorang. Istri-istri pejabat (dipercaya) melahirkan rangsangan pada para suami untuk mencari dana tambahan belanja. Masak si anu sudah pake mobil Mercy kita cuma pake kijang?!” Masak si anu belanja ke luar negeri 4 kali sebulan, kita malah gak pernah..!?” Kira-kira begitulah asumsi happiness economic versi Oswald. Jika tidak hati-hati, ujung-ujungnya ya korupsi …!
Sayangnya, dalam konteks sosial hitung-hitungan kebahagiaan seringkali diukur dari hal-hal yang bersifat artifisial (permukaan) semata. Misalnya jabatan/kedudukan, harta kepemilikan, pakaian yang dikenakan, dan lain-lain. Contoh kecil, dalam benak kita (minimal saya), level jabatan sales terdengar sumir, alergi, dan tidak berkelas. Padahal, bila ditengok lebih jauh ke dalam, justru orang-orang sukses yang top mengawali karirnya dari sales.
Lain waktu, mungkin pernah terbersit sebuah pemikiran, “kenapa orang lain bisa kaya, sedangkan aku tidak…!” Nah, sekali lagi jika tidak hati-hati, terlalu serakah, dan lepas kontrol, norma dan nilai-nilai sosial diabaikan sedemikian rupa. Kata lainnya ya “menghalalkan segala cara”.
Harus diakui bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih berada pada level awal ala teori kebutuhan Abraham Maslow, yakni pencarian kebutuhan ekonomi. Sayangnya, pemenuhan ekonomi tersebut tidak dibarengi dengan landasan management yang kuat. Jatuh-jatuhnya ya happiness economic yang benar-benar hanya dilandasi oleh ketakjuban (keirian) pada kemewahan.
Ada fakta pengalaman di tahun 1998. Di sepanjang telusur gang di pinggiran Kebondalem Semarang, terbangun rumah-rumah padat penduduk. Luas rumah tak seberapa. Warna tembok dan lantai yang lusuh jelas menandakan situasi kumuh. Tapi jangan salah. Saat melongok ke dalam, para penghuni rumah sempit itu sedang berjejal menonton televisi (ukuran 21 inch). Satu set DVD player menyusun di bawah rak TV. Dan sebuah motor honda diparkir di teras rumah. Kurang lebih mereka mengaku, “meski miskin, kita juga bisa bergaya hidup mewah..!”
Pesan dari Oswald sebenarnya jelas. Happiness economic menjadi bernilai positif jika dicapai dengan pertimbangan matang. Pemerolehan atas kekayaan atau hal lainnya dilakukan atas dasar kebutuhan, bukan keinginan semata. Ini prinsip prioritas.
Bagaimana cara Anda mencapai kebahagiaan?
terimakasih ilmunya