MENGELOLA SAMPAH

20 10 2009

Tips-tips berikut ini dapat diterapkan untuk meningkatkan jumlah sampah plastik yang di daur ulang dan juga mengurangi jumlah sampah plastik perumahan.

  1. Cari tahu jenis-jenis plastik yang dapat didaur ulang. Sebagian besar industri daur ulang plastik hanya menerima botol plastik yang terbuat dari PET (#1) dan HDPE (#2) dan memang sebagian besar kemasan plastik (terutama botol plastik) termasuk dalam golongan-golongan tersebut. Pengelompokan kemasan plastik berdasarkan komponen penyusunnya dapat dilihat disini.
  2. Kosongkan dan bilas botol plastik. Lepas tutup dan label botol karena keduanya bersifat kontaminan. Remuk botol agar lebih menghemat tempat.
  3. Gunakan tas plastik lebih dari sekali sebelum membuangnya. Masing-masing jenis tas plastik dapat digunakan kembali untuk hal yang berbeda-beda. Contohnya adalah sebagai pelapis tempat sampah yang sering dipraktekkan oleh ibu rumah tangga.
  4. Pastikan tas plastik kosong dan bersih. Hal ini penting karena struk belanja dan bahan lain dapat mengkontaminasi plastik saat di daur ulang. Semua tas plastik bersih berlabel #2 (HDPE) atau #4 (LLDPE) dapat didaur ulang. Tas plastik yang terkena kontak langsung dengan makanan sebaiknya dipisahkan dari plastik yang akan di daur ulang.
  5. Kembalikan kemasan plastik untuk di daur ulang. Beberapa toko dan retailer mengadakan program yang menyarankan customer-nya untuk mengembalikan kemasan plastiknya untuk didaur ulang dengan imbalan tertentu.
  6. Biasakan hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan dan pastikan kemasannya dapat didaur ulang. Apabila membeli keperluan sehari-hari dan rumah tangga, belilah dalam kemasan yang lebih besar untuk meminimalisir jumlah kemasan.
  7. Bawalah tas belanja sendiri saat berbelanja ke supermarket. Gunakan saja tas-tas plastik yang didapat dari belanja sebelumnya.
  8. Belilah produk-produk yang lebih tahan lama untuk mengurangi frekuensi membuang kemasan. Misalnya membeli shampo atau deterjen dengan konsentrasi yang lebih tinggi.

Memang hal-hal diatas tampak remeh dan merepotkan. Tetapi bayangkan jika kita semua melakukannya pasti akan menimbulkan dampak yang besar. Karena itu ajaklah kerabat dan teman-teman dekat Anda untuk ikut berperan aktif dalam melindungi lingkungan hidup kita.

http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/





DELIVERY ORDER

1 06 2009

DELIVERY ORDER KORAN BEKAS

Sudah jamak rasanya, bila hari gini punya hape! Hampir setiap orang baik yang memiliki mobilitas tinggi, sedang, maupun biasa saja TENTU mempunyai hp atau cellular sebagai alat komunikasi. Apalagi bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis; hp adalah alat komunikasi yang vital. Tapi, siapa menduga, kalau pengguna hp itu adalah seorang pemulung atau pengumpul barang-barang bekas???

Pagi ini, saya berniat ‘cuci gudang’ koran-koran bekas yang sudah menggunung. Saya tak berniat membawa koran-koran bekas itu ke pengepul koran, karena saya tahu hampir setiap hari selalu ada pengumpul barang-barang bekas yang lewat di depan rumah. Benar saja, tidak berapa lama terdengar teriakan keras dengan intonasi yang diseret-seret. “Baraaang, koraaann, baraaangg…!”

Maka, segera saya panggil bapak itu dan mencoba bertanya, berapa harga koran bekas per kilogramnya. “700 Om!” jawabnya. Sebenarnya, mungkin harga itu terlalu rendah. Sebab saya tahu, harga koran bekas tahun 2000-an sudah mencapai Rp 800 rupiah. Tetapi itu di Jogja. Tidak tahu kalau di Jakarta; saya tidak begitu paham harga pasaran koran bekas. Setelah saya tawar, tapi hasilnya mentog juga. Akhirnya saya tetap menjual koran bekas itu Rp 700/kg. Setelah ditimbang dan dibayarkan, saya mengucap terima kasih (seperti biasanya saya lakukan). Tetapi, apa yang terjadi. Bapak itu tak kunjung pergi, malah berhenti mematung untuk beberapa saat di depan saya. Meski ia sudah menjawab ucapan terima kasih saya, tapi sepertinya ia belum berminat untuk pergi. Saya mencoba mengulang. “Baik, Pak. Terima kasih!” Duuuerrr. Bapak itu seperti tersadar dari lamunannya. Tapi, bukan ucapan pamit yang kemudian terlontar dari mulutnya. Tangan kanannya malah merogoh saku baju sebelah dalam dan … SEBUAH HP!!

Untuk sesaat, sekarang saya yang terkaget-kaget. “Begini Om. Nanti kalau Om mau jual koran bekas lagi, Om bisa telpon atau sms saya saja!!” Olalaa, saya tahu sekarang kenapa ia tak segera beranjak. “Ini seperti delivery order saja!”, pikirku. Jadi, bukan saja MacD, Hokben atau Pizza saja yang delivery order ternyata. Koran bekas pun bisa!!! Ck ck ck…

Sementara, di benak bapak itu mungkin terpikir “saya sebagai calon pelanggan baru-nya”! Akhirnya, kami pun bertukar nomor hp. Dan barulah, setelah yakin bahwa saya mencatat nomornya, ia segera berpamitan dan mengucap terima kasih.

Sesaat setelah ia pergi, saya masih tak percaya sekaligus mencoba mengagumi bapak pengumpul koran/barang bekas tadi. Hebat! Orang itu begitu berani dan kreatif. Mungkin saja di luar tugasnya berkeliling dan mencari barang-barang bekas, hp-nya berfungsi sama seperti lainnya; berkomunikasi dengan keluarganya di rumah atau di kampung. Tetapi yang pasti, bapak pengumpul koran bekas ini telah benar-benar memanfaatkan alat komunikasi dengan maksimal.

Sebenarnya, cerita di atas bukanlah fakta baru. Siapa saja orangnya, dari kalangan mana saja, hp menjadi alat komunikasi yang sudah sangat-sangat familiar. Bahkan seorang petani yang sedang mencari rumput, para pemulung, tukang ojeg, kuli-kuli di pasar, para penjual di pasar, sampai penjual sayuran keliling; terimbas dengan buaian kecanggihan teknologi ini. Tetapi, sejauh mana mereka memaksimalkan hp sebagai sarana komunikasi untuk memajukan bisnis atau memperlancar usaha mereka, saya tidak tahu secara persis. Orang punya hp, juga bermacam-macam motivasinya (+ fungsinya)

Bagaimana dengan Anda?





KAMAR PENGANTIN

23 03 2009

sajak-sajak Asa untuk kita

akhirnya aku menjumpaimu di sini
di antara wangi kenanga dan warna biru
berkubang dalam satu gerabah
puncak dari perjalanan yang rumit
dan setelah kita meroncenya
menjadi perhiasan di sanggulmu dan leherku

tetapi cinta bukanlah sajak
juga bukan keindahan itu sendiri
di dalam satu gerabah
kita bertukar jawab dengan jujur
aku menjumpai huruf yang tercipta di hatimu
kamu pun akan tahu betapa ringkihnya aku
di sini kita beradu rasa cemas
karena kenyataan memang lebih menyakitkan

turunlah, kutunggu kamu di sini
berkubang dalam satu gerabah
agar kita tahu pantaskah kita bernama cinta

Kudus, Oktober 2008